Menikah dan Punya Anak Tetap Layak Diperjuangkan, Ini Pandangan Islam
- 09 Mei 2026 06:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah derasnya arus media sosial, narasi tentang pernikahan dan memiliki anak kini semakin beragam. Tidak sedikit konten yang menggambarkan kehidupan setelah menikah sebagai sesuatu yang melelahkan, penuh tekanan, bahkan menakutkan.
Mulai dari hilangnya kebebasan pribadi, beban ekonomi, hingga tanggung jawab mengurus anak yang dianggap menghalangi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri.
Fenomena tersebut perlahan memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap pernikahan. Sebagian mulai memilih gaya hidup child-free atau enggan menikah karena merasa kehidupan rumah tangga hanya akan menambah beban dan membatasi ruang gerak pribadi.
Konten-konten di media sosial yang terus berulang turut membentuk persepsi bahwa hidup sendiri lebih nyaman dibanding membangun keluarga.
Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan perspektif Islam. Dalam Islam, pernikahan dan hadirnya anak justru dipandang sebagai bagian dari fitrah manusia sekaligus ladang ibadah yang memiliki nilai besar dalam kehidupan.
Ketua Departemen Ekonomi dan Kewirausahaan PDNA Nganjuk, Ustazah Ruli Ismawati, menjelaskan bahwa kekhawatiran generasi muda terhadap pernikahan sebenarnya perlu disikapi secara bijak dan proporsional.
“Media sosial hari ini sering kali hanya menampilkan sisi lelahnya pernikahan, tetapi tidak banyak menunjukkan keberkahan, ketenangan, dan proses pendewasaan yang lahir dari sebuah keluarga,” ujarnya saat berbincang bersama RRI Surabaya dalam program Mutiara Pagi (09/05/2026).
Menurutnya, Islam tidak pernah memandang pernikahan sebagai penjara bagi seseorang untuk kehilangan jati dirinya. Sebaliknya, pernikahan adalah sarana untuk bertumbuh bersama dan saling menguatkan.
“Dalam Islam, menikah itu bukan tentang kehilangan diri sendiri, tetapi tentang belajar bertanggung jawab, belajar mencintai dengan benar, dan belajar membangun kehidupan yang lebih bermakna,” katanya.
Ia menilai munculnya tren child-free juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan budaya dan pola konsumsi informasi generasi muda. Banyak anak muda akhirnya melihat anak hanya sebagai beban finansial dan emosional, bukan amanah maupun sumber kebahagiaan.
Padahal, lanjut Ustadzah Ruli, kehadiran anak dalam keluarga memiliki nilai spiritual yang besar. Anak bukan sekadar tanggungan, tetapi juga investasi amal dan penerus kebaikan orang tua.
“Anak itu amanah sekaligus ladang pahala. Memang mengasuh anak membutuhkan pengorbanan, tetapi dari situlah seseorang belajar sabar, ikhlas, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang,”ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa kekhawatiran soal hilangnya kebebasan setelah menikah perlu dipahami secara lebih dewasa. Sebab, setiap fase kehidupan memang memiliki konsekuensi dan tanggung jawab masing-masing.
“Ketika masih sendiri, kita bebas menentukan hidup sendiri. Tapi saat menikah, kita belajar memikirkan orang lain. Itu bukan kehilangan kebahagiaan, justru bentuk kedewasaan,” kata Ustadzah Ruli.
Menurutnya, generasi muda tetap perlu memiliki harapan dan pandangan positif terhadap pernikahan. Ia mengingatkan bahwa rumah tangga tidak selalu sempurna, tetapi dapat menjadi tempat bertumbuh, saling mendukung, dan menemukan ketenangan hidup.
“Jangan sampai media sosial membuat kita takut terhadap sesuatu yang sebenarnya mulia dalam Islam. Pernikahan itu ibadah, dan membangun keluarga adalah bagian dari menjaga peradaban,” tuturnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk lebih selektif dalam menyerap informasi di media sosial dan tidak menjadikan potongan pengalaman orang lain sebagai ukuran mutlak dalam memandang kehidupan rumah tangga.
“Tidak semua yang viral itu benar. Kadang orang hanya membagikan lelahnya, tapi tidak membagikan bahagianya. Padahal banyak keluarga yang hidup sederhana tetapi penuh cinta dan keberkahan,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....