Minat Cek Kesehatan Gratis Masih Rendah, Ini Penyebabnya
- 07 Mei 2026 17:46 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Program cek kesehatan gratis dinilai masih sepi peminat karena rendahnya kesadaran masyarakat.
- Banyak masyarakat baru memeriksakan kesehatan saat sudah mengalami gejala penyakit.
- Sosialisasi, edukasi, serta sarana dan prasarana program CKG dinilai belum merata.
- Keberhasilan program membutuhkan dukungan bersama dari keluarga, tenaga medis, pemerintah, hingga akademisi.
- Deteksi dini penting untuk mencegah penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan jantung.
RRI.CO.ID, Surabaya - Program cek kesehatan gratis atau CKG yang telah berjalan selama satu tahun dinilai masih belum optimal menjangkau masyarakat. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu faktor utama minimnya peminat program tersebut.
Kepala Bagian Mikrobiologi FK UWKS, dr. Indah Widyaningsih mengatakan, masyarakat masih cenderung memeriksakan diri ketika sudah mengalami keluhan kesehatan, bukan sebagai langkah pencegahan melalui deteksi dini.
“Program cek kesehatan gratis ini disinyalir masih sepi peminat karena masyarakat kita belum aware terhadap kesehatan. Selain itu sosialisasi dan edukasi juga masih minim, kemudian sarana-prasarana belum merata, termasuk berkaitan dengan integritas dan kontinuitas program CKG itu sendiri,” ujar Indah dalam Dialog Aspirasi Pro1 RRI Surabaya, Kamis, 7 Mei 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama agar program yang dinilai baik itu dapat berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan mudah diakses masyarakat.
Indah menekankan pentingnya pendekatan preventif melalui deteksi dini atau screening kesehatan secara rutin. Sebab, sebagian masyarakat masih memiliki kebiasaan datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi penyakit sudah berkembang.
“Jangan menunggu sakit, jangan menunggu ada gejala baru periksa. Pemeriksaan kesehatan itu bagian dari upaya pencegahan untuk meningkatkan angka harapan hidup,” katanya.
Ia menilai keberhasilan program CKG tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah maupun fasilitas kesehatan semata. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak mulai dari keluarga, lingkungan sosial, RT/RW, puskesmas, tenaga medis hingga akademisi.
Menurut Indah, peran akademisi dapat membantu keberlanjutan program melalui edukasi kesehatan, penelitian, pendampingan masyarakat, hingga penguatan promosi pola hidup sehat.
“Peran akademisi penting untuk melengkapi program ini karena akses masih terbatas, fasilitas juga terbatas, tenaga medis juga terbatas. Jadi memang perlu sinergitas berbagai pihak agar program cek kesehatan gratis ini bisa tepat sasaran dan diminati masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan kesehatan perlu dimulai dari lingkup terkecil seperti keluarga agar masyarakat terbiasa menjadikan pola hidup sehat sebagai kebutuhan dan budaya sehari-hari.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan rutin dinilai penting untuk menekan risiko komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....