Sampah Kali Tebu 907 Kilogram Satgas Segera Dibentuk

  • 06 Mei 2026 18:56 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Sampah Kali Tebu capai 907 kg dalam sehari
  • Satgas sungai disiapkan untuk patroli dan edukasi
  • Sampah plastik dan popok dominasi pencemaran sungai
  • Upaya Pemkot Surabaya atasi pencemaran Kali Tebu
  • Penyebab utama sampah sungai dari limbah rumah tangga

RRI.CO.ID, Surabaya- Kolaborasi lintas pihak mulai digerakkan untuk mengatasi persoalan sampah di Kali Tebu Surabaya, setelah temuan volume sampah yang mencapai 907 kilogram hanya dalam 24 jam. Data tersebut terungkap dari uji coba pemasangan penjaring sampah (trashboom) oleh Yayasan ECOTON dalam rangkaian program MOZAIK.

Manajer Program MOZAIK ECOTON, Amiruddin Muttaqin, menjelaskan bahwa upaya ini membutuhkan keterlibatan semua pihak dari tingkat kelurahan hingga pemerintah kota.

“Program MOZAIK ini memang dirancang sebagai kolaborasi. Kami yakin setiap wilayah punya potensi untuk bersama-sama mewujudkan kawasan bebas sampah dan memulihkan ekosistem sungai,” ujarnya dalam rilis tertulis diterima RRI, Rabu 6 Mei 2026.

Selain itu, hasil audit menunjukkan dominasi sampah plastik sekali pakai, terutama kemasan saset dan multilapis. Bahkan, ditemukan pula sampah popok dalam jumlah signifikan. Manajer Data dan Informasi MOZAIK ECOTON, Alaika Rahmatullah, mengungkapkan temuan tersebut menjadi perhatian serius.

“Dari hasil audit, sampah bermerek didominasi bungkus makanan, dan sampah popok mencapai sekitar 420 kilogram. Ini menunjukkan perlunya tanggung jawab bersama, termasuk dari produsen,” jelasnya.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, pemerintah wilayah bersama pemangku kepentingan mendorong langkah konkret melalui pembentukan satuan tugas (satgas) dan penguatan edukasi masyarakat. Camat Kenjeran Surabaya, Gin Gin Ginanjar, menekankan pentingnya percepatan aksi di lapangan.

“Kami berharap satgas Kali Tebu segera terbentuk, melibatkan kelurahan, masyarakat, dan berbagai pihak untuk patroli, penertiban, sekaligus edukasi,” katanya.

Senada, Camat Simokerto, Noer Novita Amin, menilai perubahan perilaku masyarakat menjadi tantangan utama yang harus diatasi bersama.

“Perlu ada sanksi yang diiringi edukasi. Harapannya, pengelolaan sampah ini tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga memberi nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Ke depan, kolaborasi melalui program MOZAIK akan difokuskan pada pengurangan sampah dari sumber, penguatan peran masyarakat, serta pengembangan kawasan bantaran sungai menjadi ruang publik yang lebih bersih dan bernilai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....