Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jawa Timur bulan April 2026 turun 1,63 persen

  • 05 Mei 2026 07:55 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur pada April 2026 tercatat mengalami penurunan sebesar 1,63 persen, dari 118,39 menjadi 116,46.
  • Penurunan ini menunjukkan melemahnya daya beli petani, seiring turunnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,55 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) justru naik tipis 0,08 persen.
  • Komoditas seperti minyak goreng, solar, pupuk urea, dan gula pasir turut mendorong kenaikan biaya yang harus ditanggung petani.
  • Secara nasional di Pulau Jawa, sebagian besar provinsi juga mengalami penurunan NTP pada April 2026

RRI.CO.ID, Surabaya – Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur pada April 2026 tercatat mengalami penurunan sebesar 1,63 persen, dari 118,39 menjadi 116,46. Penurunan ini menunjukkan melemahnya daya beli petani, seiring turunnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,55 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) justru naik tipis 0,08 persen.

Secara subsektor, penurunan NTP terjadi pada hortikultura sebesar 11,84 persen, perikanan 1,73 persen, dan peternakan 1,63 persen. Sebaliknya, subsektor tanaman pangan naik 1,40 persen dan tanaman perkebunan rakyat meningkat 0,54 persen.

Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur, Debora Sulistya Rini, memaparkan, penurunan It terutama dipicu oleh turunnya harga komoditas hortikultura, peternakan, dan perikanan. Komoditas seperti cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, hingga ayam ras pedaging menjadi penyumbang utama penurunan.

"Sementara itu, kenaikan It didorong oleh komoditas seperti gabah, jagung, tomat, sapi potong, dan kopi." ujarnya.

Di sisi lain, kenaikan Ib dipengaruhi oleh meningkatnya biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,63 persen, meskipun indeks konsumsi rumah tangga (KRT) mengalami penurunan 0,22 persen.

"Komoditas seperti minyak goreng, solar, pupuk urea, dan gula pasir turut mendorong kenaikan biaya yang harus ditanggung petani." katanya.

Secara rinci, subsektor hortikultura mencatat penurunan terdalam akibat anjloknya harga sayuran seperti cabai rawit dan kubis. Sementara subsektor peternakan tertekan oleh turunnya harga telur dan ayam, serta subsektor perikanan terdampak penurunan harga hasil tangkap dan budidaya.

Di sisi lain, subsektor tanaman pangan mengalami peningkatan NTP berkat naiknya harga gabah dan jagung. Begitu pula subsektor perkebunan rakyat yang terdorong oleh kenaikan harga komoditas seperti kopi, tebu, dan tembakau.

Untuk sektor perikanan, Nilai Tukar Nelayan (NTN) tercatat turun 2,19 persen, sedangkan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) turun 1,32 persen. Penurunan ini mencerminkan tekanan yang masih dirasakan pelaku usaha perikanan, baik tangkap maupun budidaya.

Secara nasional di Pulau Jawa, sebagian besar provinsi juga mengalami penurunan NTP pada April 2026. Penurunan terdalam terjadi di DI Yogyakarta sebesar 2,89 persen, diikuti Jawa Timur 1,63 persen, Jawa Barat 1,60 persen, dan Jawa Tengah 1,27 persen.

"Sementara itu, Provinsi Banten menjadi satu-satunya yang mencatat kenaikan NTP sebesar 0,44 persen." ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....