Meneladani Tiga Tokoh Besar dalam Mencetak Generasi Emas Berakhlak Mulia
- 02 Mei 2026 05:27 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari ini, Sabtu (2/5/2026), Program Cahaya Pagi Pro 4 RRI Surabaya menghadirkan diskusi mendalam mengenai esensi pendidikan sejati. Mengusung tema "Mendidik Generasi Emas", hadir sebagai narasumber Nyai Dra. Zainab Nailiyah, Pemegang Kas Majelis Tabligh & Ketarjihan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Timur.
Dalam paparannya, Nyai Zainab menekankan bahwa pendidikan tidak boleh hanya dimaknai sebatas rutinitas pergi ke sekolah atau mengejar nilai akademik semata. Menurutnya, pendidikan yang hakiki adalah proses panjang dalam membentuk fondasi spiritual dan karakter anak bangsa.
"Pendidikan bukan sekadar soal bangku sekolah. Inti dari pendidikan adalah membentuk akhlak, memperkokoh iman, dan menjaga moral. Kita harus kembali ke akar pendidikan yang kokoh agar generasi emas 2045 bukan hanya cerdas intelektual, tapi juga luhur budi pekertinya," ujar Nyai Zainab.
Untuk membangun karakter generasi masa depan, Nyai Zainab mengajak pendengar untuk meneladani pemikiran dan metode dari tiga tokoh besar yang memiliki pengaruh kuat dalam dunia pendidikan dan spiritual:
Luqmanul Hakim: Mewakili fondasi Tauhid dan Adab. Ia mengajarkan bahwa pendidikan pertama dan utama harus dimulai dari pengenalan kepada Sang Pencipta dan rasa syukur, yang kemudian menjadi rem bagi perilaku buruk.
Ki Hajar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional ini menekankan pada konsep Ing Ngarsa Sung Tulada. Pendidikan harus memberikan teladan nyata. Moral tidak bisa diajarkan hanya lewat teori, melainkan melalui perilaku pendidik yang dilihat langsung oleh anak didik.
Imam Al-Ghazali: Fokus pada Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs). Pendidikan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia memandang guru bukan sekadar pengajar, melainkan pembimbing spiritual yang membantu muridnya membedakan antara yang hak dan yang batil.
Di akhir sesi, Nyai Zainab berpesan kepada para orang tua dan pendidik di Jawa Timur agar tidak lelah menanamkan nilai-nilai moral di tengah gempuran teknologi digital.
"Jika akarnya kokoh yaitu iman dan akhlak maka diterpa badai apa pun di masa depan, generasi kita akan tetap tegak berdiri. Itulah esensi dari merdeka belajar yang sesungguhnya," kayanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....