Krisis Energi Mengintai, Sepeda Jadi Solusi Nyata Mobilitas Harian

  • 29 Apr 2026 08:00 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Ancaman krisis energi global kian terasa di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Kondisi ini memicu gangguan pasokan energi dan berdampak ke berbagai negara.

Sejumlah negara seperti Filipina dan Bangladesh telah menetapkan darurat energi. Sementara Korea Selatan mulai mengimbau penghematan penggunaan energi kepada warganya.

Di Indonesia, kekhawatiran serupa mulai mencuat. Meski Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan APBN masih mampu menahan gejolak harga energi hingga akhir tahun, ia mengingatkan ancaman utama justru pada sisi pasokan.

“Darurat energi itu bukan di APBN. Yang saya khawatirkan kalau suplai berhenti. Bukan harganya, tapi barangnya tidak ada,” ujarnya.

Situasi ini mendorong masyarakat mulai beradaptasi. Di tengah ketidakpastian ekonomi, berbagai cara dilakukan untuk menekan pengeluaran sekaligus menghemat energi. Selain beralih ke transportasi umum, sepeda kini kembali dilirik sebagai alternatif mobilitas harian.

Fenomena ini tak hanya muncul dari masyarakat, tetapi juga didorong kebijakan pemerintah daerah. Di sejumlah kota, Aparatur Sipil Negara (ASN) mulai diarahkan bersepeda ke kantor. Dari yang semula sporadis, kini sepeda makin sering terlihat di jalan saat jam berangkat kerja.

Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, menilai momentum ini sebagai peluang membangun kebiasaan baru. Sepeda dinilai menjadi solusi paling realistis, terutama untuk perjalanan jarak pendek di bawah lima kilometer. Selain hemat biaya, moda ini juga ramah lingkungan dan menyehatkan.

Menariknya, tren ini tak sekadar respons sesaat terhadap krisis. Sejumlah pihak melihatnya sebagai potensi perubahan jangka panjang. Komunitas Bike to Work Indonesia berharap kebiasaan ini bisa terus berlanjut.

Ketua Umum B2W Indonesia, Stephanus Hendro Subroto, menilai peralihan ini dapat memberi dampak luas. “Masalah kita bukan hanya energi, tapi juga polusi dan kemacetan. Harapannya, ini bukan tren sementara, tetapi bisa menurunkan ketergantungan pada kendaraan bermotor,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan pelaku bike to work, Dwi Julian (@djulsu). Ia menyebut krisis ini justru bisa membawa dampak positif jika dimaknai dengan tepat. “Tidak harus langsung ekstrem. Mulai dari jarak dekat seperti ke minimarket atau cari sarapan, itu sudah berdampak,” katanya.

Bagi pengguna sepeda Polygon Strattos itu, bersepeda tidak harus dimulai dari perjalanan jauh. Perjalanan jarak pendek seperti belanja ke minimarket atau beli makanan saja sudah cukup untuk berdampak bagi bumi. “Nggak perlu ekstrem, maksudnya harus wow sepedaan jauh-jauh, nggak. Mulai dari kita ke minimarket, cari sarapan di sekitar komplek pakai sepeda. Biasakan aja dulu.”

Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap bersepeda sebagai alternatif mobilitas, berbagai pertanyaan pun bermunculan di media sosial mulai dari jenis sepeda yang tepat hingga rekomendasi brand yang sesuai untuk penggunaan harian. Dalam percakapan tersebut, Polygon, brand sepeda asal Indonesia, kerap menjadi salah satu nama yang paling banyak disebut.

Menurut Hendro, Polygon dikenal sebagai brand lokal dengan kualitas yang telah teruji, namun tetap menawarkan harga yang relatif terjangkau bagi berbagai kalangan. Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Dwi Julian, pengguna Polygon selama dua tahun terakhir. Ia mengaku sepeda miliknya, Strattos S2, memberikan kenyamanan untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk perjalanan ke kantor.

“Sepeda saya Strattos S2, dan nyaman sekali untuk gowes ke kantor,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa sepupunya yang sebelumnya tidak terbiasa bersepeda, mulai bike to work setelah beralih menggunakan sepeda listrik Kalosi Miles. “Awalnya karena keadaan, tapi ternyata langsung bisa beradaptasi,” katanya.

Untuk kebutuhan mobilitas harian, Polygon menghadirkan beragam pilihan sepeda yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Tidak selalu harus menggunakan sepeda balap, sepeda kategori urban seperti Polygon Zeta Velo dan Path Series menjadi pilihan yang lebih relevan untuk penggunaan sehari-hari di perkotaan.

Selain itu, Polygon juga menawarkan lini sepeda listrik dengan teknologi pedal assist, yang memberikan dorongan tenaga sesuai kayuhan. Seri seperti Kalosi Miles dan Kalosi Lanes EVO dikenal luas karena kemampuannya mendukung perjalanan hingga jarak yang lebih jauh, dengan daya tahan baterai yang dapat mencapai hingga 100 kilometer.

Dari kebutuhan yang lahir karena krisis, bertransformasi dinilai menjadi pilihan yang lebih sadar baik dari sisi efisiensi, kesehatan, maupun keberlanjutan lingkungan. Jika tren ini terus berkembang dan didukung oleh ekosistem yang memadai, bukan tidak mungkin bersepeda akan menjadi pemandangan yang semakin umum di jalanan kota.

Pertanyaannya, apakah ini hanya fenomena sesaat, atau justru awal dari perubahan yang lebih besar? Di tengah krisis BBM, Indonesia tampak mulai bersiap dengan cara yang berbeda ramai-ramai bersepeda. Dan mungkin, ini bisa menjadi awal dari wajah baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....