Employee Disengagement: Turunnya Loyalitas Karyawan karena Kurang Apresiasi
- 26 Apr 2026 20:39 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya - Keterputusan emosional karyawan terhadap pekerjaannya atau employee disengagement kini menjadi sorotan serius di dunia profesional. Fenomena ini tidak hanya mengancam produktivitas individu, tetapi juga berpotensi merusak kinerja perusahaan secara keseluruhan. Kondisi tersebut bahkan kerap disebut sebagai “musuh diam-diam” di lingkungan kerja karena dampaknya yang besar namun sering luput dari perhatian.
Psikolog dan motivator asal Surabaya, Bawinda Lestari, turut membedah persoalan ini dalam sambungan telepon pada program Pro1, Minggu 26 April 2026. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa employee disengagement merupakan kondisi yang berakar dari perasaan tidak dihargai yang dialami karyawan secara terus-menerus.
“Employee disengagement adalah sebuah kondisi dimana seorang karyawan merasa bahwa kerja kerasnya selama ini tidak pernah dihargai,” jelas Bawinda membuka pembicaraan. Ia menegaskan bahwa kondisi ini bisa terjadi bahkan pada karyawan yang memiliki dedikasi dan loyalitas tinggi terhadap pekerjaannya.
Menurut Bawinda, fenomena ini sangat berbahaya apabila tidak segera ditangani dengan serius oleh pihak manajemen. Ia mengingatkan bahwa keterlambatan dalam merespons gejala awal dapat berdampak langsung pada penurunan produktivitas kerja secara signifikan.
“Kondisi ini sangat berbahaya jika dibiarkan, karena jika tidak segera disadari dan ditangani oleh pihak manajemen atau atasan, produktivitas kerja akan menurun drastis,” tegasnya. Penurunan ini, lanjutnya, pada akhirnya akan memengaruhi pencapaian target perusahaan secara keseluruhan.
Salah satu tantangan terbesar dari employee disengagement adalah gejalanya yang tidak selalu terlihat secara kasat mata. Banyak karyawan tetap hadir secara fisik di tempat kerja, namun kehilangan semangat dan keterlibatan emosional dalam menjalankan tugasnya.
“Sering datang tanpa suara. Mungkin dia tetap hadir secara fisik, namun semangat dan kepeduliannya perlahan memudar,” ungkap Bawinda menggambarkan kondisi tersebut. Situasi ini, menurutnya, kerap tidak disadari oleh pimpinan hingga dampaknya sudah meluas.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa perasaan tidak dihargai dan tidak didengarkan dapat merusak kondisi mental karyawan secara perlahan. Dampaknya tidak hanya menurunkan kualitas kerja, tetapi juga melemahkan loyalitas terhadap perusahaan serta menciptakan suasana tim yang kurang kondusif.
Melihat besarnya risiko tersebut, Bawinda mengajak para pemimpin perusahaan untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku karyawan. Ia menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada target, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan psikologis.
“Para pimpinan harus bisa melihat fenomena ini, yakni dengan cara membangun budaya kerja yang benar-benar menghargai setiap kontribusi,” tegasnya. Ia menilai bahwa kepemimpinan yang empatik menjadi kunci dalam mencegah munculnya disengagement di lingkungan kerja.
Sebagai solusi, Bawinda menekankan pentingnya menciptakan budaya kerja yang suportif dan penuh apresiasi. Ia menyebut bahwa bentuk penghargaan tidak selalu harus berupa materi, melainkan bisa melalui pengakuan, komunikasi yang terbuka, serta umpan balik yang membangun.
“Karena karyawan yang merasa dihargai dan dianggap penting akan selalu memberikan energi dan kinerja terbaiknya,” pungkas Bawinda Lestari. Ia berharap para pemimpin mulai menerapkan langkah-langkah sederhana namun bermakna untuk mencegah employee disengagement sebelum semakin meluas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....