Ngobras Ungkap Peran Film pada Masa Pendudukan Jepang
- 20 Apr 2026 23:08 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya - Program dialog interaktif “Ngobras” di Pro1 RRI Surabaya kembali menghadirkan narasumber spesial dari komunitas sejarah lokal, Senin, 20 April 2026. Kali ini, perwakilan Begandring Soerabaia hadir untuk mengupas catatan sejarah masa lampau, khususnya terkait kebijakan propaganda melalui media film pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Topik ini menarik perhatian pendengar setia RRI yang ingin memahami sisi lain sejarah komunikasi massa di tanah air.
Hadir langsung di studio, Fajar Kurniawan dan Farel Hamzah membedah topik tersebut secara mendalam. Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai sudut pandang yang disampaikan, mulai dari fungsi film sebagai media hiburan hingga alat penyebaran ideologi. Program ini menjadi ruang edukasi yang membuka wawasan publik tentang sejarah perfilman Indonesia.
Dalam pemaparannya, Farel menjelaskan bagaimana Jepang memanfaatkan teknologi perfilman untuk memengaruhi pola pikir masyarakat. “Pada masa itu, film digunakan sebagai salah satu alat propaganda untuk bisa memberikan pengaruh kepada rakyat Indonesia mengenai hal-hal baik tentang Jepang,” ungkap Farel di hadapan audiens.
Menurutnya, strategi tersebut dilakukan karena keterbatasan sarana hiburan pada masa itu. Selain radio, film menjadi salah satu tontonan yang sangat diminati masyarakat untuk mengisi waktu luang di tengah kondisi yang serba terbatas. Hal ini menjadikan film sebagai media yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada masyarakat luas.
Farel juga menambahkan bahwa akses terhadap film pada masa pendudukan Jepang justru lebih terbuka dibandingkan era sebelumnya. “Kalau pada zaman Belanda, film hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas dan diputar di gedung bioskop tertentu, maka di zaman Jepang masyarakat kelas bawah pun bisa menikmatinya, apalagi dengan dibukanya layanan bioskop keliling,” tambahnya.
Jenis film yang ditayangkan pun beragam, namun memiliki tujuan yang sama, yakni membentuk opini publik. Farel menguraikan, “Ada Film Berita yang berisi tentang keberhasilan Jepang di masa Perang Dunia 2, ada film hiburan berbahasa Jepang, serta film produksi lokal yang sarat dengan berbagai pesan moral yang mengajak masyarakat dekat dengan pemerintah pendudukan.”
Sementara itu, Fajar Kurniawan menambahkan bahwa film produksi Jepang di Indonesia juga melibatkan tenaga lokal. “Film produksi Jepang ini juga melibatkan beberapa aktor dan aktris dari Indonesia kala itu. Hal inilah yang membuatnya bisa diterima oleh masyarakat dengan sangat mudah,” jelas Fajar. Keterlibatan aktor lokal dinilai mampu memperkuat kedekatan emosional dengan penonton.
Seiring dengan berakhirnya pendudukan Jepang, perkembangan perfilman Indonesia memasuki babak baru. Para sineas mulai memanfaatkan film sebagai sarana perjuangan untuk menyuarakan kemerdekaan dan menumbuhkan semangat patriotisme. Film seperti Darah dan Doa pada era 1950-an menjadi tonggak penting, sekaligus penanda bahwa film tidak hanya menjadi alat propaganda, tetapi juga media perjuangan bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....