Nilai Religiusitas Tersembunyi di Bangunan Tua Surabaya
- 18 Apr 2026 22:56 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota pahlawan, tetapi juga menyimpan nilai religiusitas yang tersembunyi di balik bangunan-bangunan tuanya. Dalam perspektif sejarah, bangunan lama bukan sekadar peninggalan fisik, melainkan ruang hidup yang merekam praktik keagamaan, keberagaman, dan nilai spiritual masyarakat masa lalu yang masih bisa dirasakan hingga kini.
Hal tersebut diangkat dalam program siaran dialog Kita Indonesia yang disiarkan pada Jumat, 17 April 2026 di Pro 4 RRI Surabaya, dengan menghadirkan narasumber Abdul Holil, S.Hum., M.Ikom., yang akrab disapa Cak Ho dari komunitas Bumi Miring Nusantara.
Cak Ho menjelaskan bahwa komunitasnya lahir dari inspirasi nilai-nilai keislaman yang juga tercermin dalam simbol organisasi Nahdlatul Ulama. “Kami memang berada di luar struktur NU, tapi terinspirasi dari lambang NU yang dibuat oleh Kyai Ridlwan Abdullah,” ujarnya.
Ia menambahkan, Bumi Miring Nusantara merupakan organisasi yang menggabungkan semangat lama dan baru dalam satu gerakan. “Ini organisasi yang bisa dibilang lama tapi baru. Semangatnya dari sejarah, tapi gerakannya untuk masa kini,” kata Cak Ho.
Dalam praktiknya, komunitas ini aktif di bidang pendidikan dan sosial. Salah satu program yang dijalankan adalah pemberian beasiswa kepada anak-anak kurang mampu.
“Di bidang pendidikan, kami memberikan beasiswa, hasil dari donasi yang kami kumpulkan,” jelasnya.
Markas Bumi Miring Nusantara sendiri berada di kawasan bersejarah, tepatnya di Jalan Kawatan Gang 1 Nomor 2 Surabaya, yang juga merupakan rumah almarhum tokoh Kyai Ridlwan Abdullah. Lokasi ini menjadi simbol bahwa aktivitas sosial dan religius tetap hidup di tengah bangunan tua.
Menurut Cak Ho, kawasan tersebut termasuk bagian dari kampung tua yang memiliki sejarah panjang sejak ratusan tahun lalu. “Kalau dihitung, kawasan ini sudah sangat tua. Banyak riwayat yang menunjukkan keterkaitan dengan pemerintahan dan kehidupan masyarakat tempo dulu,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti adanya simbol atau ornamen religius pada bangunan lama yang sering luput dari perhatian masyarakat. “Banyak orang tidak paham, padahal ada tulisan, nama, atau ornamen tertentu yang punya makna religius,” jelasnya.
Beberapa bangunan tua di Surabaya bahkan memiliki nilai spiritual yang kuat karena pernah digunakan untuk kegiatan keagamaan. “Bangunan dengan arsitektur kolonial pun seringkali dipakai untuk aktivitas religius, jadi ada perpaduan antara budaya dan agama,” tambah Cak Ho.
Melalui berbagai kegiatan seperti sholawat, edukasi sejarah, dan eksplorasi kampung tua, Bumi Miring Nusantara berupaya mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih peka terhadap nilai tersebut.
“Kami ingin anak-anak muda tidak hanya datang untuk foto, tapi juga memahami sejarah dan nilai religiusitas di dalamnya,” kata Cak Ho.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....