Disiplin Berkendara Dimulai dari Orang Tua
- 13 Apr 2026 15:04 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Maraknya anak di bawah umur membawa kendaraan ke sekolah dinilai bukan hanya persoalan keselamatan lalu lintas, tetapi juga mencerminkan bagaimana keluarga menanamkan disiplin, kejujuran, dan kepatuhan terhadap aturan sejak dini. Koordinator Komisi Pengembangan SDM Matematika Sekolah Pengurus Pusat Indonesian Mathematical Society (IndoMS), Mohammad Zahri, menilai kebiasaan ini perlu dilihat sebagai persoalan mindset masyarakat yang berdampak langsung pada pembentukan karakter anak.
Menurut Zahri, ketika orang tua membiarkan bahkan memfasilitasi anak yang belum cukup umur membawa sepeda motor ke sekolah, pesan yang diterima anak bukan hanya soal boleh atau tidak boleh berkendara, tetapi juga tentang bagaimana aturan bisa dinegosiasikan.
“Kalau sejak awal anak diajarkan untuk melanggar aturan, bahkan membiasakan berbohong soal usia untuk kepemilikan SIM, lama-lama itu bisa menjadi budaya. Anak akan menganggap melanggar aturan sebagai hal yang biasa,” kata Zahri, Senin, 13 April 2026.
Ia menegaskan, persoalan ini tidak boleh hanya dipandang dari sisi risiko kecelakaan. Lebih dari itu, anak sedang belajar tentang sikap hidup dari apa yang dicontohkan orang tua di rumah. Menurutnya, ketika keluarga tidak memberikan teladan yang benar, anak berpotensi tumbuh dengan karakter yang permisif terhadap pelanggaran. Dalam jangka panjang, pola ini bisa memengaruhi kedisiplinan anak di sekolah, kepatuhan terhadap tata tertib, hingga sikap mereka dalam kehidupan sosial.
“Ini bukan hanya soal bahaya di jalan, tetapi bagaimana anak belajar jujur, disiplin, dan patuh terhadap aturan. Kalau orang tua tidak mengajarkan yang benar, dampaknya bisa terbawa sampai dewasa,” ujarnya.
Zahri menilai persoalan utama terletak pada mindset masyarakat terhadap aturan berkendara. Masih ada anggapan bahwa selama anak sudah bisa menjalankan sepeda motor, maka tidak masalah digunakan untuk berangkat sekolah. Padahal, pola pikir seperti ini justru menormalisasi pelanggaran dan berpotensi menjadi budaya yang diwariskan.
Karena itu, ia menekankan perlunya kolaborasi antara orang tua, sekolah, pemerintah, dan lingkungan sosial agar kesadaran masyarakat bisa berubah. Menurutnya, pendidikan karakter tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah, tetapi harus dimulai dari rumah dan diperkuat oleh lingkungan sekitar.
“Kalau ini terus dibiarkan, lama-lama menjadi budaya. Karena itu semua pihak harus ikut membangun kesadaran bahwa aturan berkendara bukan sekadar soal keselamatan, tetapi bagian dari pendidikan karakter anak,” kata Zahri.
Sebagai langkah penguatan, ia juga mengusulkan adanya reward dan punishment bagi siswa. Anak yang tertib dan menggunakan moda transportasi aman dapat diberi apresiasi, sementara pelanggaran perlu direspons dengan sanksi edukatif yang melibatkan orang tua agar ada efek pembelajaran.
Pendekatan ini diharapkan tidak hanya menekan risiko kecelakaan anak di bawah umur, tetapi juga membantu membangun budaya disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran yang akan melekat pada karakter anak hingga dewasa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....