BNPB: 90 Persen Kebakaran Hutan dan Lahan Disebabkan Ulah Manusia

  • 08 Apr 2026 16:09 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan mayoritas kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau 2026 dipicu kelalaian manusia, di tengah sejumlah wilayah Indonesia yang mulai memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau.

Dalam Dialog Aspirasi RRI Pro 1 Surabaya, Rabu pagi, 8 April 2026, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan sejak awal Ramadan beberapa wilayah di Indonesia mulai beralih dari musim penghujan menuju musim kemarau secara bertahap, sebagaimana juga dipetakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Memang tahun 2026 ini sejak awal Ramadan ada beberapa wilayah di Indonesia yang mulai masuk masa transisi dari musim penghujan ke musim kemarau, lalu secara bertahap wilayah lain juga akan mengikuti,” kata Abdul Muhari.

Ia menegaskan, ancaman kebakaran hutan dan lahan pada periode kemarau tidak semata dipengaruhi faktor cuaca, tetapi dominan disebabkan oleh perilaku manusia.

“Sekitar 90 persen kebakaran hutan dan lahan disebabkan oleh kelalaian manusia, baik sengaja maupun tidak sengaja. Musim kemarau hanya menjadi katalis yang membuat api lebih cepat membesar,” ujarnya.

Menanggapi peringatan dini BMKG terkait kemarau yang diprakirakan datang lebih awal dan berlangsung cukup panjang, BNPB memperkuat langkah pada fase pra-bencana melalui mitigasi dan kesiapsiagaan, sekaligus memastikan kesiapan tanggap darurat hingga pascabencana di daerah rawan.

Skema ini sejalan dengan tahapan resmi penanggulangan bencana BNPB yang meliputi pra-bencana, tanggap darurat, dan pascabencana.

Menurut Muhari, apel kesiapsiagaan yang sebelumnya dilakukan bertujuan memastikan setiap daerah siap menghadapi kemungkinan bencana, mulai dari kesiapan personel, dukungan anggaran, fasilitas, hingga sarana prasarana yang dibutuhkan saat situasi darurat.

Koordinasi juga terus diperkuat bersama pemerintah daerah, terutama pada wilayah yang rawan kekeringan dan rentan kebakaran hutan dan lahan. Langkah ini penting agar peringatan dini BMKG segera diterjemahkan menjadi aksi lapangan sebelum titik api meluas.

Selain faktor cuaca, Muhari menekankan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci pencegahan, mengingat sebagian besar kebakaran berasal dari pembukaan lahan, pembakaran sampah, hingga aktivitas lain yang dilakukan tanpa pengawasan.

Dengan musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang tahun ini, BNPB berharap masyarakat tidak memandang karhutla sebagai dampak cuaca semata, tetapi sebagai bencana yang sangat bisa dicegah melalui kedisiplinan dan kewaspadaan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....