Efisiensi Energi Dimulai dari Jarak Sekolah
- 01 Apr 2026 09:35 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Krisis energi global yang dipicu ketegangan geopolitik mendorong berbagai sektor memperkuat langkah efisiensi, termasuk dunia pendidikan. Namun, upaya sekolah ramah energi dinilai tidak cukup hanya melalui penghematan listrik di lingkungan sekolah, melainkan juga perlu memperhatikan jarak tempuh siswa dari rumah ke sekolah.
Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur, Ali Yusa menilai pendekatan efisiensi energi yang lebih menyeluruh harus dimulai dari akses pendidikan yang dekat dengan domisili siswa. Menurutnya, mobilitas harian siswa yang menempuh jarak jauh justru menjadi sumber konsumsi BBM yang besar di masyarakat.
“Efisiensi energi dalam pendidikan tidak hanya soal penggunaan listrik di gedung sekolah, tetapi juga bagaimana siswa dapat mengakses sekolah dengan jarak yang dekat dari rumahnya,” kata Ali Yusa saat memberikan peryataannya kepada RRI Surabaya, Selasa, 31 Maret 2026.
Ia mencontohkan, di sejumlah wilayah penyangga seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, masih ada siswa yang harus menempuh perjalanan hingga belasan kilometer karena belum tersedianya sekolah negeri di kawasan permukiman terdekat. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan biaya transportasi keluarga, tetapi juga berdampak pada konsumsi bahan bakar yang terus berulang setiap hari.
Ali menjelaskan, jika biaya transportasi harian siswa rata-rata mencapai Rp30 ribu selama sekitar 200 hari belajar, maka satu keluarga dapat mengeluarkan sekitar Rp6 juta per tahun untuk satu anak. Dalam skala lebih besar, angka tersebut dinilai cukup signifikan dan dapat menjadi dasar evaluasi perencanaan pembangunan sekolah baru di wilayah padat penduduk.
Dalam konteks penerimaan murid baru, kebijakan SPMB jalur domisili dipandang menjadi instrumen penting untuk memperpendek mobilitas siswa. Namun, menurut Ali, kebijakan tersebut perlu dibarengi penambahan unit sekolah baru atau ruang kelas di kawasan yang belum terlayani agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Ketika sekolah hadir lebih dekat dengan rumah, kebutuhan transportasi berbahan bakar fosil otomatis berkurang. Ini menjadi bentuk efisiensi energi yang nyata dan dirasakan langsung masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pendekatan manajemen energi yang lebih komprehensif. Tidak hanya menghitung penggunaan listrik gedung, tetapi juga memasukkan pola transportasi siswa sebagai indikator efisiensi energi sekolah.
Menurutnya, keberhasilan sekolah ramah lingkungan sebaiknya diukur dari semakin banyaknya siswa yang dapat berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan moda transportasi rendah emisi karena lokasi sekolah yang lebih dekat dengan rumah.
Pada akhirnya, pembangunan sekolah di titik permukiman yang tepat dinilai menjadi investasi jangka panjang yang berdampak pada pemerataan pendidikan, pengurangan beban ekonomi keluarga, sekaligus mendukung ketahanan energi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....