Filosofi Lebar Lebur Luber Labur dalam Tradisi Lebaran

  • 24 Mar 2026 21:28 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Program Tanjung Perak Malam, Obrolan Budaya edisi Selasa, 24 Maret 2026 mengangkat topik “Lebar, Lebur, Luber, Labur ing Riyaya Idul Fitri.” Dalam dialog tersebut, pecinta budaya Nusantara, Cak Ries, menjelaskan makna filosofis di balik istilah yang lekat dengan tradisi Lebaran dalam budaya Jawa.

Menurut Cak Ries, empat istilah tersebut merupakan satu kesatuan makna dalam memaknai Idul Fitri. “Empat istilah ini adalah filosofi Jawa dalam memaknai Idul Fitri, melambangkan berakhirnya puasa, pembersihan dosa, limpahan pahala, dan penyucian diri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, istilah pertama yaitu lebar memiliki arti lapang atau selesai. Makna ini merujuk pada berakhirnya bulan Ramadan sekaligus ajakan untuk membuka hati dan saling memaafkan antar sesama.

Selanjutnya, lebur dimaknai sebagai hancur atau sirna. Dalam konteks Lebaran, istilah ini menggambarkan proses melebur dosa dan kesalahan melalui saling memaafkan serta menghilangkan ego pribadi.

Istilah ketiga, luber, memiliki arti melimpah atau meluap. Cak Ries menyebut bahwa makna ini berkaitan dengan limpahan pahala, keberkahan, serta rezeki yang diperoleh setelah menjalani ibadah selama bulan Ramadan.

Sementara itu, labur berarti putih atau bersih. Makna ini menggambarkan kondisi hati yang kembali suci setelah melalui proses pengendalian diri, pembersihan dosa, dan peningkatan amal selama Ramadan.

“Labur ini seperti melabur atau mengecat putih, artinya jiwa kita kembali bersih dan suci setelah melewati proses sebelumnya,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa tradisi labur tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga pernah dilakukan secara nyata dalam kehidupan masyarakat Jawa tempo dulu.

Cak Ries menceritakan, pada masa lalu rumah-rumah masyarakat setiap menjelang Lebaran dilabur atau dicat putih menggunakan kapur yang dihancurkan dan dicampur air, kemudian dioleskan ke dinding. Tradisi tersebut bahkan tidak hanya dilakukan saat Lebaran, tetapi juga menjelang peringatan 17 Agustus.

Menurutnya, nuansa putih pada rumah saat Lebaran menjadi simbol kesucian, sejalan dengan makna kembali fitrah setelah menjalani ibadah puasa.

Secara keseluruhan, Cak Ries menyimpulkan bahwa rangkaian lebar, lebur, luber, labur dirangkum dalam makna Lebaran, yaitu kembalinya manusia pada keadaan suci. Nilai ini sekaligus menjadi pengingat untuk menjaga kebersihan hati dan mempererat hubungan antarsesama setelah Hari Raya Idul Fitri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....