Imunisasi Kejar Penting Lindungi Anak Dari Ancaman Campak

  • 10 Mar 2026 18:42 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Penyakit campak masih menjadi ancaman bagi kesehatan anak di Indonesia. Meski dapat dicegah melalui imunisasi, kasus campak masih ditemukan di berbagai daerah akibat belum meratanya cakupan imunisasi pada anak.

Dalam program dialog Beranda Asta Cita Kesehatan, Selasa, 10 Maret 2026, Dokter spesialis anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sekaligus RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Dr. Dwiyanti Puspitasari, dr., Sp.A(K), DTM&H, MCTM(TP) mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh penyakit ini. Menurutnya, campak merupakan penyakit infeksi yang sangat mudah menular dan dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik.

“Campak disebabkan oleh virus dan penularannya sangat cepat, terutama melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap memiliki risiko lebih besar untuk tertular,” ujarnya.

Ia menjelaskan, gejala campak biasanya diawali dengan demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah. Setelah beberapa hari, akan muncul ruam kemerahan yang biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Menurutnya, kondisi ini sering kali dianggap sebagai penyakit biasa oleh sebagian masyarakat. Padahal, campak dapat menimbulkan komplikasi berbahaya jika tidak segera ditangani.

“Komplikasi campak bisa cukup serius, seperti radang paru-paru atau pneumonia, diare berat, infeksi telinga, hingga radang otak atau ensefalitis. Pada kondisi tertentu bahkan dapat menyebabkan kematian, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh yang lemah,” ujarnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa imunisasi merupakan cara paling efektif untuk melindungi anak dari penyakit campak. Imunisasi biasanya diberikan pada usia tertentu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Namun demikian, masih ada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap karena berbagai faktor, seperti keterlambatan jadwal, kurangnya informasi, atau kekhawatiran orang tua terhadap efek samping vaksin.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mendorong pelaksanaan imunisasi kejar, yaitu pemberian vaksin kepada anak-anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. “Imunisasi kejar ini penting untuk memastikan anak-anak yang belum mendapatkan vaksin tetap bisa memperoleh perlindungan. Jadi, meskipun jadwalnya sempat terlewat, anak masih bisa mengejar imunisasi yang belum didapatkan,” kata Dr. Dwiyanti.

Ia juga menegaskan bahwa imunisasi yang diberikan telah melalui berbagai proses penelitian dan pengawasan ketat sehingga aman bagi anak. “Efek samping setelah imunisasi biasanya hanya ringan, seperti demam atau nyeri di area suntikan. Kondisi ini normal dan biasanya akan hilang dalam waktu satu hingga dua hari,” ujarnya.

Dr. Dwiyanti juga mengimbau para orang tua untuk lebih aktif memeriksa kembali catatan imunisasi anak dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika terdapat imunisasi yang belum lengkap. Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menghindari kontak dengan penderita campak guna mencegah penyebaran penyakit.

“Peran orang tua sangat penting dalam melindungi anak dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Pastikan imunisasi anak lengkap, dan jika ada yang terlewat segera lakukan imunisasi kejar di fasilitas kesehatan terdekat,” ucapnya.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi, diharapkan angka kasus campak dapat ditekan sehingga anak-anak dapat tumbuh sehat dan terlindungi dari penyakit yang berbahaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....