Konflik Timur tengah Momen Uji Kemandirian Industri

  • 04 Mar 2026 13:36 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Eskalasi konflik di Timur Tengah dinilai menjadi ujian serius bagi kemandirian industri energi nasional. Ketua Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Arman Hakim Nasution, menilai Indonesia belum sepenuhnya siap menghadapi gangguan rantai pasok energi global.

Dalam Dialog Aspirasi RRI Pro 1 Surabaya, Rabu, 4 Maret 2026, Arman mengatakan konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada kenaikan harga minyak, tetapi juga pada kelangsungan rantai pasok energi internasional.

“Persoalannya bukan sekadar harga naik, tetapi bagaimana supply chain global terganggu. Jika distribusi dan pasokan tersendat, negara yang bergantung pada impor akan sangat terdampak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, struktur industri energi Indonesia masih bergantung pada komponen dan bahan baku impor, baik untuk sektor migas maupun pembangkit energi. Kondisi tersebut membuat ketahanan energi nasional rentan ketika terjadi konflik di kawasan produsen minyak dunia.

Menurut Arman, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) seharusnya menjadi instrumen strategis dalam membangun kemandirian energi. Namun implementasinya perlu diperkuat dan dijalankan secara konsisten.

“TKDN jangan hanya menjadi persyaratan administratif proyek. Ini harus menjadi strategi membangun local supply chain energi, dari hulu sampai hilir,” tuturnya.

Ia menambahkan, pembangunan kilang, infrastruktur penyimpanan, hingga industri komponen energi baru terbarukan perlu melibatkan lebih banyak industri dalam negeri agar ketergantungan terhadap luar negeri berkurang.

Berdasarkan data pemerintah, kebutuhan energi nasional masih ditopang oleh impor minyak dan BBM. Ketergantungan tersebut berpotensi menimbulkan tekanan apabila jalur distribusi global terganggu akibat konflik.

“Kalau kita tidak memperkuat industri penunjang dalam negeri, setiap eskalasi geopolitik akan selalu menjadi ancaman berulang bagi stabilitas energi dan ekonomi nasional,” katanya.

Arman menilai momentum konflik global harus dijadikan titik evaluasi untuk mempercepat integrasi kebijakan industri dan energi. Menurutnya, ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh pasokan, tetapi juga oleh kekuatan struktur industri domestik.

“Ketahanan energi itu soal kemandirian. Selama rantai pasok utama masih di luar negeri, kita akan tetap rentan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....