Dari Tablet Kuno ke Teleskop Modern

  • 03 Mar 2026 17:30 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Fenomena Supermoon Blood Moon yang terjadi hari ini, Selasa 3 Maret 2026 bukan sekadar peristiwa langit sesaat. Gerhana bulan telah dicatat manusia sejak lebih dari 2.700 tahun lalu, dari guratan aksara paku di tablet tanah liat hingga kini diamati dengan teleskop modern berteknologi tinggi.

Peradaban Babilonia di Mesopotamia menjadi salah satu yang paling awal mendokumentasikan gerhana. Catatan tersebut digunakan untuk mengenali pola berulang pergerakan Bulan dan menjadi dasar perkembangan ilmu astronomi.

Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, menyatakan bahwa dokumentasi gerhana sudah dilakukan sejak era kuno. Beberapa catatan gerhana paling awal disimpan oleh para astronom Babilonia kuno.

Dari pengamatan berulang itu, para astronom kuno mulai memahami pola siklus gerhana yang kini dikenal sebagai siklus Saros. Pada masa tersebut, gerhana kerap dikaitkan dengan pertanda tertentu, terutama dalam konteks kerajaan dan peristiwa penting.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, fenomena yang dahulu dianggap penuh makna simbolik kini dapat dijelaskan secara ilmiah. NASA menjelaskan bahwa gerhana bulan total terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan.

“Selama gerhana bulan total, Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga bayangannya menutupi Bulan,” mengutip laman resmi NASA.gov.

Adapun warna merah yang muncul saat fase totalitas dikenal sebagai blood moon yang terjadi karena cahaya Matahari dibiaskan oleh atmosfer Bumi. Cahaya biru lebih banyak tersebar, sementara cahaya merah diteruskan dan dipantulkan ke permukaan Bulan.

Jika dahulu gerhana dicatat di atas tablet tanah liat sebagai arsip astronomi kuno, kini pengamatan dilakukan menggunakan teleskop digital di berbagai observatorium modern. Teknologi tersebut memungkinkan ilmuwan merekam data spektrum cahaya untuk mempelajari atmosfer Bumi secara lebih rinci.

Fenomena 3 Maret 2026 menjadi simbol perjalanan panjang ilmu pengetahuan: dari tablet kuno peradaban Babilonia hingga teleskop modern yang mampu membaca langit dengan presisi. Peristiwa yang dahulu diselimuti tafsir mitos kini dipahami melalui sains yang terukur dan terbuka bagi publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....