Kitab Ta’lim Muta’llim Pedoman Adab dalam Menuntut Ilmu

  • 03 Mar 2026 11:27 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Program Cahaya Pagi edisi Selasa, 3 Maret 2026, membahas topik “Mengenal Kitab Ta’lim Al Muta’llim” bersama Ustaz Dr. Aris Nurullah, S.Ag., M.Ag., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Gubeng Kementerian Agama Kota Surabaya. Dalam dialog tersebut dijelaskan pentingnya kitab klasik ini sebagai pedoman adab dan metodologi bagi penuntut ilmu.

Kitab Ta’lim Muta’allim merupakan karya ulama abad ke-13, Burhanuddin al-Zarnuji, yang berasal dari wilayah Turkistan Asia Tenggara. Kitab ini telah lama diajarkan di pesantren dan dinilai tetap relevan hingga sekarang. Ustadz Aris mengaku telah mempelajarinya sejak masa tsanawiyah pada tahun 1990-an.

“Kitab Ta’lim Muta’lim ini mengajarkan kita bagaimana memberikan panduan adab dan motivasi bagi penuntut ilmu agar ilmunya berkah, bermanfaat dan berhasil dalam pembelajarannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kitab ini berfungsi sebagai pedoman moral, spiritual, sekaligus metodologi belajar bagi para pelajar atau thalibul ilmi. Dalam kitab tersebut terdapat 13 pokok pembahasan. Di antaranya tentang hakikat ilmu dan keutamaannya, niat dalam belajar, serta pentingnya memilih ilmu, guru, dan teman yang tepat.

Pemilihan guru dilihat dari kredibilitas, sanad keilmuan, serta rekam jejaknya, sementara lingkungan pertemanan turut memengaruhi keberhasilan belajar. Kitab ini juga membahas penghormatan terhadap ilmu dan guru, kesungguhan serta ketekunan dalam belajar dengan prinsip man jadda wa jadda, hingga tahapan dan tertib belajar yang sistematis.

Selain itu, diajarkan pula tentang tawakal kepada Allah dan pengaturan waktu belajar yang efektif, seperti waktu menjelang Magrib, setelah Magrib hingga Isya, serta menjelang Subuh. Pembahasan lain mencakup budaya saling menasihati antarsesama pencari ilmu, pentingnya mencatat pelajaran atau membuat resume, serta sikap warak dalam belajar.

Warak dimaknai sebagai upaya menjauhkan diri dari perbuatan dosa, hal-hal haram, maupun perkara syubhat agar ilmu yang diperoleh membawa keberkahan. Kitab ini juga menjelaskan faktor penguat hafalan dan penyebab lupa, seperti kesungguhan, ketekunan, menjaga pola makan, serta memperbanyak ibadah.

Di bagian akhir, dibahas pula manajemen rezeki dan umur, yakni anjuran agar penuntut ilmu fokus belajar tanpa mencemaskan hal-hal di luar kendali. Sebagai penutup, Ustaz Aris menegaskan bahwa meskipun ditulis pada abad ke-13, kitab ini tetap ideal dan relevan digunakan pada era sekarang. Menurutnya, kunci utama kitab ini terletak pada tiga hal, yaitu pembentukan adab dan akhlak dalam mencari ilmu, metode belajar yang tepat, serta upaya meraih keberkahan ilmu dari para guru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....