Seleksi Kades di Sidoarjo Gunakan Sistem Penilaian Akumulatif

  • 02 Mar 2026 08:07 WIB
  •  Surabaya

‎RRI.CO.ID, Sidoarjo – Pemerintah kabupaten melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) menggelar seleksi Computer Assisted Test (CAT) bagi bakal calon kepala desa (Bacakades), sebagai mekanisme penyaringan wajib di desa dengan pendaftar lebih dari lima orang.

‎Seleksi berbasis komputer ini menjadi tahapan penting sebelum penetapan calon tetap. Namun, kelulusan peserta dipastikan tidak semata-mata ditentukan oleh nilai ujian CAT.

‎Kepala Bidang Pembinaan dan Pengawasan Pemerintahan Desa PMD Sidoarjo, Hernita, menegaskan bahwa sistem penilaian dilakukan secara akumulatif dengan empat kategori utama.

‎“Terdapat sistem penilaian akumulatif yang mencakup empat kategori untuk menentukan peringkat lima besar yang berhak maju ke tahap penetapan calon tetap,” ujar Hernita, Senin 2 Maret 2026.

‎Ia menjelaskan, kategori pertama adalah pengalaman kerja atau rekam jejak pengabdian di lembaga pemerintahan. Kedua, tingkat pendidikan dengan bobot berjenjang, mulai dari SMP (15 poin), SMA (17 poin), S1 (25 poin), S2 (27 poin), hingga S3 (29 poin).

‎“Ketiga adalah usia. Penilaiannya berdasarkan asas keadilan, di mana seluruh rentang usia mendapatkan nilai flat sebesar 50. Keempat adalah nilai CAT yang terdiri dari 150 soal, mencakup pemerintahan, Bahasa Indonesia, dan pengetahuan umum,” ujarnya.

‎Kontestasi Pulungan Menghangat

‎Persaingan di Desa Pulungan, Kecamatan Sedati, menjadi salah satu yang paling menyita perhatian. Tahun ini tercatat enam pendaftar, meningkat dibanding periode sebelumnya yang cenderung minim peminat.

‎Petahana Desa Pulungan, Deki Andianto, yang telah menjabat dua periode, kembali maju untuk melanjutkan program pembangunan yang belum tuntas. Meski optimistis, ia mengingatkan tantangan fiskal yang akan dihadapi kepala desa terpilih.

‎“Kondisi sekarang cukup berat. Kami mengalami depresiasi anggaran sekitar 58 persen dari dana desa. Ini tantangan besar bagi siapapun yang terpilih untuk tetap membangun di tengah keterbatasan,” ujar Deki usai mengikuti tes.

‎Ia juga mengapresiasi transparansi proses seleksi, terutama sistem CAT yang hasilnya dapat langsung diketahui peserta.

‎Penantang lainnya, Muhammad Munir, hadir membawa visi pembangunan partisipatif. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat.

‎“Tujuan saya membangun tanah kelahiran sendiri. Pembangunan tidak bisa hanya top-down, tetapi harus melibatkan peran aktif masyarakat dan organisasi desa,” kata Munir.

‎Menurutnya, sistem CAT memberikan rasa keadilan karena hasilnya muncul secara langsung tanpa celah intervensi.

‎Muncul Representasi Perempuan

‎Semangat perubahan juga tampak di Desa Sepande, Kecamatan Candi. Anik Fauziyah maju sebagai representasi perempuan dalam kontestasi Pilkades 2026.

‎“Harapan saya ingin merangkul semua warga agar lebih rukun dan harmonis, sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat,” ucap Anik.

‎Ia menilai pelaksanaan tes berjalan lancar berkat persiapan panitia kabupaten yang matang. Berdasarkan Surat Edaran Sekretaris Daerah Sidoarjo, hasil rekapitulasi peringkat lima besar dari BKD akan diserahkan kepada panitia desa paling lambat satu hari setelah pelaksanaan tes. Hasil tersebut menjadi dasar penetapan calon kepala desa tetap pada 1 Maret 2026.

‎Pilkades 2026 di Sidoarjo diharapkan menjadi momentum lahirnya kepemimpinan desa yang kompeten, transparan, serta adaptif menghadapi tantangan keterbatasan anggaran dan dinamika pembangunan ke depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....