ZIS Gaya Hidup Muslim Bahagia

  • 01 Mar 2026 19:47 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Dialog Cahaya Ramadan 96,8 FM Pro 4 RRI Surabaya, Minggu 1 Maret 2026, pukul 16.30 WIB hingga menjelang maghrib. Mengusung tema “Zakat, Infaq dan Sedekah adalah Gaya Hidup Muslim Bahagia”, menghadirkan narasumber Dr. KH. Ahsanul Haq, Wakil Ketua II Baznas Provinsi Jawa Timur.

Dalam dialog, KH Ahsanul Haq menegaskan bahwa zakat adalah kewajiban yang telah ditetapkan Allah SWT sebagai bagian dari sunnatullah kehidupan. “Tidak mungkin semua orang kaya dan tidak mungkin semua orang miskin. Ini sudah ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang miskin harus berikhtiar, yang kaya wajib berbagi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perintah zakat telah ada sejak zaman para nabi dan dipertegas pada masa Rasulullah SAW melalui firman Allah “min amwalihim”, ambillah sebagian harta mereka. “Ada perintah langsung kepada Rasulullah untuk mengambil harta orang-orang kaya, lalu dibagikan kepada yang membutuhkan agar kesejahteraan merata,” katanya.

Menurutnya, pada masa Rasulullah SAW telah dibentuk amil, yakni petugas yang amanah dan profesional untuk mengelola zakat. Bahkan saat kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, terjadi penegasan keras terhadap pihak yang menolak membayar zakat. “Zakat itu bukan pilihan, tetapi kewajiban bagi yang sudah mencapai nisab,” tegasnya.

Ia juga mencontohkan masa keemasan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mampu mengoptimalkan zakat hingga hampir tidak ditemukan orang miskin. “Walau memimpin hanya dua tahun, beliau mampu menjadikan rakyat sejahtera karena zakat dikelola dengan baik oleh amil yang jujur dan profesional,” ungkapnya.

Di Jawa Timur, Baznas terus mengoptimalkan pengelolaan zakat, infaq dan sedekah melalui berbagai program produktif. Salah satunya bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebesar Rp20 juta per unit. “Rumah dengan dinding rapuh dan lantai tanah kita bantu renovasi. Dana provinsi dipadukan dengan Baznas kabupaten/kota dan partisipasi warga,” jelasnya.

Selain itu, terdapat santunan bagi lansia sebatang kara sebesar Rp600 ribu per bulan hingga penerima wafat. “Saat ini kurang lebih 350 orang di seluruh Jawa Timur menerima santunan rutin setiap bulan,” sebutnya.

Program pemberdayaan ekonomi juga digalakkan melalui bantuan ternak kambing. Setiap kelompok berisi 10 orang menerima tiga ekor kambing betina per orang. “Nilainya sekitar Rp7 juta per orang. Kambing itu bisa beranak dua kali setahun, sehingga menjadi pengungkit ekonomi keluarga,” paparnya.

Tak hanya itu, Baznas juga menyediakan beasiswa program “Satu Keluarga Satu Sarjana”, bantuan rombong bagi pedagang kaki lima, hingga dukungan biaya pendidikan dan kesehatan. “Kami mendorong zakat produktif lebih besar daripada zakat konsumtif. Tahun ini produktif sudah 60 persen,” tambahnya.

Menjawab pertanyaan pendengar terkait kriteria miskin, ia menegaskan bahwa setiap permohonan yang masuk ke Baznas akan disurvei maksimal dua hari. “Kalau surat masuk hari ini, paling lambat dua hari sudah ada survei lokasi. Jika terbukti membutuhkan, bantuan segera kami salurkan,” katanya.

Ia juga menjelaskan perbedaan zakat mal dan zakat fitrah. Zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim menjelang Idulfitri sebesar 2,8 kilogram beras, yang umumnya dibulatkan menjadi 3 kilogram agar tidak kurang. “Anak-anak yang masih kecil menjadi tanggungan orang tuanya untuk dibayarkan zakat fitrahnya,” jelasnya.

Sementara zakat mal atau zakat profesi berlaku bagi mereka yang penghasilannya telah mencapai nisab. “Menurut ketentuan Baznas RI, nisab zakat profesi sekitar Rp7.640.000 per bulan. Jika sudah mencapai, wajib dikeluarkan 2,5 persen,” terangnya.

Adapun bagi yang belum mencapai nisab, dianjurkan memperbanyak infaq dan sedekah. “Infaq dan sedekah tidak ada batas nominal. Tergantung kelapangan hati masing-masing,” ujarnya.

Ia mengingatkan, zakat, infaq dan sedekah bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan sumber perlindungan dari Allah SWT. “Kata Rasulullah, sedekah bisa menolak bala. Orang yang istiqamah berzakat dan bersedekah akan dijaga dari berbagai marabahaya,” katanya.

Menutup dialog, KH Ahsanul Haq mengajak masyarakat menjadikan ZIS sebagai gaya hidup. “Bahagia itu bukan karena banyak harta, tetapi karena hati yang tenang. Jika sudah mencapai nisab tunaikan zakat, jika belum maka berinfaq dan bersedekahlah. Insya Allah hati kita bahagia dan hidup lebih tenteram,” katanya mengakhiri

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....