Jimpitan Hidupkan Solidaritas Surabaya
- 01 Mar 2026 17:57 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Tradisi jimpitan yang dikenal sebagai budaya gotong royong masyarakat Jawa kembali dihidupkan dengan pendekatan kekinian oleh Komunitas Kendangsari Peduli, Surabaya. Melalui gerakan sederhana pengumpulan uang receh, puluhan lansia dan duafa kini merasakan manfaatnya.
Jimpitan merupakan tradisi menyisihkan beras atau uang secara sukarela untuk kepentingan sosial bersama. Di tengah kehidupan kota yang serba cepat, tradisi tersebut dinilai mulai jarang diterapkan secara langsung. Namun semangatnya tetap relevan sebagai bentuk kepedulian sosial warga.
Sekretaris Komunitas Kendangsari Peduli, Zubaidulloh saat menjadi narasumber dialog Aspirasi, Sabtu, 28 Februari 2026, mengatakan komunitas tersebut berangkat dari inisiatif anak-anak muda yang kerap berkumpul di warung kopi dan ingin melakukan aksi nyata bagi lingkungan sekitar.
“Jimpitan itu nilai dasarnya gotong royong. Kami mencoba mengadaptasi dengan kondisi sekarang. Dari uang receh sisa ngopi, kalau dikumpulkan bersama, ternyata bisa membantu lansia dan duafa,” ujarnya.
Komunitas yang beranggotakan sekitar 20 orang ini berdiri tiga tahun lalu. Pada awal pembentukan, bantuan baru menjangkau sekitar 10 lansia dan duafa. Seiring konsistensi pengumpulan donasi, hingga kini total 60 penerima manfaat telah mendapatkan bantuan, baik warga Surabaya maupun pendatang yang masuk kategori kurang mampu.
“Awalnya kami tidak menyangka bisa berkembang sejauh ini. Tapi karena dilakukan rutin dan transparan, kepercayaan warga tumbuh,” kata pria yang akrab disapa Cak Dul itu.
Bantuan diberikan dalam bentuk paket sembako secara berkala. Tidak hanya itu, kegiatan sosial komunitas juga berkembang. Selain penyaluran sembako, mereka menggelar cek kesehatan sederhana bekerja sama dengan relawan tenaga kesehatan, serta menyediakan peminjaman kursi roda bagi lansia yang membutuhkan alat bantu mobilitas.
Menurut Cak Dul, dukungan masyarakat terus bertambah. Perangkat lingkungan seperti RT dan RW turut menjadi donatur untuk memperkuat keberlanjutan program.
“Harapan kami, gerakan ini tidak berhenti di Kendangsari saja. Kalau semangat jimpitan terus dijaga, solidaritas warga Surabaya akan semakin kuat,” tuturnya.
Dalam kurun tiga tahun terakhir, puluhan paket sembako dan sejumlah bantuan alat kesehatan telah disalurkan kepada warga yang membutuhkan. Di tangan generasi muda Kendangsari, jimpitan bukan sekadar tradisi lama, melainkan wujud solidaritas sosial yang tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat kota.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....