UNICEF: Kesadaran Lindungi Anak Masih Minim

  • 24 Feb 2026 15:42 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Child Protection Specialist UNICEF Field Office Java, Naning Pudji Julianingsih, menilai tingginya angka kekerasan terhadap anak di Indonesia dipicu masih minimnya kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk menjadi pelindung sekaligus pendidik yang baik bagi anak. Hal itu disampaikannya dalam Dialog Aspirasi Pro1 RRI Surabaya, Selasa, 24 Februari 2026.

“Masih minim glorifikasi atau dorongan kepada masyarakat untuk menjadi pelindung dan pendidik yang baik bagi anak-anak. Ini menjadi salah satu faktor yang memicu tingginya angka kekerasan terhadap anak di Indonesia,” ujar Naning.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), laporan kasus kekerasan terhadap anak masih tercatat ribuan setiap tahun dalam berbagai bentuk. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) juga menunjukkan kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.

Menurut Naning, kasus kekerasan terhadap anak kerap terlihat musiman. Ketika satu kasus terungkap, kasus lain ikut mencuat ke publik. “Ketika satu kasus terkuak, maka muncul kasus-kasus lainnya. Ini bukan insiden tunggal, tetapi persoalan yang sistematis, sehingga perlu perhatian dari seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Ia mengakui pemerintah telah memiliki payung hukum yang kuat, seperti Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Berbagai program juga telah dijalankan dari tingkat pusat hingga daerah, bahkan menyasar lingkup terkecil mulai dari keluarga, RT, RW, kelurahan, kecamatan hingga kabupaten/kota. Namun demikian, implementasi di lapangan dinilai masih belum optimal.

“Program sudah banyak dari pusat sampai daerah. Artinya negara sudah hadir. Tetapi implementasinya di lapangan masih perlu diperkuat,” ujarnya.

Naning menambahkan, masih banyak orang tua yang belum menyadari bahwa tindakan tertentu yang dianggap sebagai bentuk disiplin justru termasuk kekerasan terhadap anak. Karena itu, sosialisasi pola asuh positif, deteksi dini, dan edukasi berkelanjutan harus terus diperkuat.

Ia juga menyoroti tantangan media sosial yang menghadirkan berbagai konten negatif tanpa pendampingan memadai. “Orang tua perlu memahami bahwa apa yang dilakukan anak sering kali merupakan bagian dari proses pencarian jati diri. Pelabelan seperti ‘anak nakal’ tidak boleh terjadi,” katanya.

UNICEF menegaskan, kolaborasi keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah menjadi kunci untuk mewujudkan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak serta menekan angka kekerasan yang masih terjadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....