Psikolog Ungkap Fenomena Mudah Marah Kepada Orang Terdekat

  • 23 Feb 2026 11:36 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID,Surabaya - Marah merupakan luapan emosi negatif yang wajar dialami setiap manusia. Namun, emosi ini dapat menjadi masalah ketika tidak terkendali dan memicu tindakan impulsif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Fenomena menariknya, kemarahan justru sering muncul di lingkungan rumah, kepada orang-orang yang paling dekat secara emosional.

Hal tersebut disampaikan Clara, seorang psikolog asal Surabaya kepada Pro1, melalui sambungan telepon pada Senin, 23 Februari 2026. Ia menjelaskan bahwa kecenderungan seseorang lebih mudah marah kepada keluarga bukan berarti memiliki sifat temperamental, melainkan berkaitan dengan proses psikologis yang alami.

Menurut Clara, terdapat tiga konsep psikologi yang menjelaskan fenomena tersebut, yaitu Emotional Disinhibition, Expectation Violation Theory, dan Emotional Dumping. Ketiga konsep ini menunjukkan bagaimana emosi seseorang dipengaruhi oleh rasa aman, harapan, serta tekanan yang dialami sepanjang hari.

Konsep pertama, Emotional Disinhibition, terjadi ketika kontrol emosi melemah di lingkungan yang dianggap aman. “Di rumah, kita merasa aman dan tidak dalam mode bertahan, sehingga kita cenderung melepaskan kontrol yang selama ini kita jaga ketat di luar rumah,” jelas Clara.

Sementara itu, Expectation Violation Theory menjelaskan bahwa seseorang memiliki harapan lebih besar kepada orang terdekat dibandingkan orang lain. Ketika pasangan, anak, atau anggota keluarga tidak memenuhi harapan tersebut, rasa kecewa dapat berubah menjadi kemarahan.

Selain itu, terdapat konsep Emotional Dumping, yaitu kebiasaan menahan stres akibat tekanan pekerjaan dan tuntutan sosial sepanjang hari. Beban emosi yang tidak tersalurkan akhirnya diluapkan di rumah, sehingga orang terdekat sering menjadi sasaran tanpa disadari.

Clara menegaskan bahwa memahami alasan psikologis di balik kemarahan bukan untuk menyalahkan diri sendiri. “Pemahaman ini penting. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan untuk menumbuhkan empati, baik pada diri kita maupun pada orang-orang yang kita sayangi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa marah adalah reaksi manusiawi, namun cara mengelolanya menentukan kualitas hubungan. “Marah adalah reaksi manusiawi. Namun, belajar mengenali sumber marah dan menyampaikannya tanpa melukai adalah langkah menuju hubungan yang lebih sehat dan dewasa secara emosional,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....