Kekerasan Anak Kian Marak, Psikolog Soroti Akar Masalah Keluarga
- 23 Feb 2026 10:27 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat dan memantik keprihatinan berbagai pihak. Psikolog menilai, akar persoalan bukan semata pada pelaku, tetapi pada rapuhnya fondasi emosional di dalam keluarga.
Ketua Asosiasi Psikolog Forensik Jawa Timur, Riza Wahyuni, menegaskan banyak anak menjadi korban karena kebutuhan dasar emosional mereka tidak terpenuhi. Mulai dari kebutuhan dicintai, dihargai, hingga diakui keberadaannya.
“Anak itu butuh validasi, butuh kasih sayang. Kalau itu tidak terpenuhi, dia akan mencari ke luar,” ujar Riza di Surabaya.
Menurutnya, konflik rumah tangga, orang tua yang sibuk, hingga pola asuh yang keras membuat anak kehilangan figur aman. Dalam kondisi tersebut, anak menjadi rentan terhadap kekerasan fisik, verbal, maupun seksual.
Riza mengungkap, tidak sedikit korban kekerasan justru mengalami pelecehan dari orang terdekat. Namun mereka memilih diam karena takut dimarahi atau tidak dipercaya orang tua.
“Banyak anak tidak berani speak up. Takut dimarahi, takut dianggap memalukan keluarga,” katanya.
Ia menyebut dampaknya bisa sangat panjang jika tidak ada intervensi psikologis. Anak korban kekerasan berisiko tumbuh dengan trauma mendalam, perilaku impulsif, hingga gangguan kesehatan mental.
Dalam sejumlah kasus yang ia tangani, korban yang mengalami kekerasan sejak usia sekolah dasar menunjukkan perubahan perilaku drastis saat remaja. Beberapa bahkan terjerumus pada perilaku berisiko.
“Kalau tidak ditangani, dampaknya bisa ke mana-mana. Bisa agresif, bisa menyakiti diri sendiri,” katanya.
Selain faktor keluarga, Riza juga menyoroti tekanan sosial dan pola asuh yang menjadikan anak sebagai alat validasi orang tua. Target akademik berlebihan hingga pamer pencapaian dinilai bisa menjadi bentuk kekerasan psikis.
“Anak bukan alat validasi orang tua. Mereka punya cita-cita sendiri,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kebiasaan orang tua yang lebih banyak berinteraksi dengan gawai dibanding anak. Minimnya komunikasi membuat anak merasa diabaikan dan kehilangan tempat bercerita.
“Kadang yang hadir di rumah itu HP-nya, bukan orang tuanya,” kata Riza.
Karena itu, ia mendorong orang tua menyediakan waktu khusus tanpa gawai untuk membangun kedekatan emosional. Interaksi sederhana seperti makan bersama tanpa ponsel dinilai mampu memperkuat ikatan dan mencegah anak mencari perhatian di luar.
Riza menegaskan, kekerasan terhadap anak adalah persoalan kompleks yang membutuhkan keterlibatan semua pihak. Namun benteng pertama tetap keluarga.
“Kalau rumah menjadi tempat yang aman, anak tidak akan mudah menjadi korban,” katanya mengakhiri. (Cantya)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....