Pitutur Toleransi dalam Budaya Jawa

  • 23 Feb 2026 00:02 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Siaran dialog Apresiasi Budaya, Minggu, 22 Februari 2026, menghadirkan dua pecinta budaya nusantara, Cak Ries Handono Prawirodirjo dan Cak Raflie Handono, yang mengupas tema Pitutur Toleransi dalam tradisi Jawa. Dalam dialog, keduanya menegaskan bahwa nilai toleransi sejatinya telah lama hidup dalam ungkapan-ungkapan tradisional yang diwariskan leluhur.

Cak Ries menjelaskan bahwa masyarakat Jawa mengenal berbagai pitutur yang menuntun sikap saling menghargai. “Budaya Jawa itu sejak dulu mengajarkan toleransi, bukan lewat teori, tapi lewat ungkapan sederhana yang mudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya dalam siaran tersebut.

Salah satu ungkapan yang dibahas adalah têpa salira. Secara harfiah, têpa berarti ukuran atau pertimbangan, sedangkan salira berarti diri sendiri. Pitutur ini mengajarkan agar setiap sikap, ucapan, dan tindakan kepada orang lain terlebih dahulu diukur dengan perasaan diri sendiri.

“Kalau kita ingin membentak orang, bayangkan dulu kalau kita yang dibentak. Kalau tidak enak, jangan dilakukan,” kata Cak Raflie. Ia menambahkan, pitutur ini sejalan dengan ungkapan ‘aja njiwit yen ra gêlêm dijiwit, yèn krasa lara mula aja nglarani wong liya’, yang berarti jangan mencubit jika tidak mau dicubit, jika sakit terasa menyakitkan maka jangan menyakiti orang lain.

Ungkapan kedua yang dibahas adalah êmpan papan. Êmpan berarti penerapan, sedangkan papan berarti tempat. Menurut Cak Ries, orang Jawa memandang bahwa kebenaran sikap bisa bersifat relatif, tergantung waktu dan tempatnya.

“Êmpan papan itu soal keluwesan. Kita harus tahu kapan berbicara, di mana kita berada, dan dengan siapa kita berhadapan,” jelasnya. Dengan sikap tersebut, seseorang dapat menempatkan diri secara tepat dan menghindari konflik yang tidak perlu akibat salah membawa diri.

Selain itu, ada pula pitutur manjing ajur ajèr. Manjing berarti masuk, ajur melebur, dan ajèr mencair. Pitutur ini mengajarkan pentingnya kemampuan beradaptasi dalam lingkungan sosial, baik di masyarakat maupun tempat kerja.

“Kalau kita masuk ke lingkungan baru, ya harus bisa ajur ajèr. Bisa menyatu tanpa kehilangan jati diri,” ujar Cak Raflie. Ia menegaskan bahwa kemampuan bersosialisasi menjadi kunci terciptanya suasana harmonis dalam keberagaman.

Dalam dialog tersebut juga dibahas prinsip rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Ungkapan ini menekankan bahwa kerukunan akan membawa kekuatan dan ketenteraman, sedangkan pertengkaran justru merusak tatanan kehidupan bersama. “Kerukunan itu investasi sosial,” kata Cak Ries.

Pitutur lain yang tak kalah penting adalah ajining awak saka tumindak, ajining dhiri saka lathi. Artinya, seseorang dinilai dari perilaku dan ucapannya. “Kalau ingin dihormati, jaga sikap dan jaga lisan. Itu kunci toleransi,” pungkas Cak Raflie.

Melalui pitutur-pitutur tersebut, keduanya berharap masyarakat semakin menyadari bahwa toleransi bukan hal baru, melainkan warisan luhur budaya yang patut dirawat bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....