Mengupas Makna Relevansi ‘Berbukalah dengan yang Manis’

  • 18 Feb 2026 08:04 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya : Memasuki waktu berbuka puasa, istilah "Berbukalah dengan yang manis" sudah menjadi jargon yang mendarah daging di masyarakat Indonesia. Namun, apakah anjuran ini sekadar tradisi atau memiliki landasan syariat dan kesehatan yang mendalam?

Hal tersebut dikupas tuntas dalam program siaran Cahaya Pagi di Pro 4 RRI Surabaya, edisi Rabu, 18 Februari 2026. Terhubung bersama narasumber Muhaimin, S.Th.I, yang merupakan Penyuluh dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gununganyar, diskusi pagi ini memberikan perspektif baru bagi para pendengar setia RRI.

“Pentingnya untuk memilih makann bernbuka puasa, untuk memenuhi energi kita. Mengontrol gula darah kita agar tidak mlelonjak. Dengan cara makan perlahan dengan memulai asupan air yang cukup. Pilih makanan yang kaya akan air yaitu buah-buahan. Awali makan dengan makanan yang sumber gula alami seperti kurma. Asupi dengan sayur dan hindari olahan berlebihan. Mending makan pisang yang segar daripada pisang goreng,” Kata Muhaimin.

Biasanya diidentikkan dengan yang manis. Tapi apakah yang manis tidak menyebabkan diabetes? Maka dari itu kita harus pilih makanan yang sehat untuk berbuka. Makan yang manis sesuai dengan anjuran Rasulullah. Beliau yang pertama kali diimakan adalah kurma.

Dalam paparannya, Muhaimin menjelaskan bahwa anjuran berbuka dengan yang manis sebenarnya berakar dari sunnah Rasulullah SAW yang membiasakan berbuka dengan ruthab (kurma basah) atau tamr (kurma kering).

"Jika tidak ada kurma, Rasulullah menyarankan seteguk air. Mengapa manis? Secara medis, rasa manis alami dari kurma berfungsi sebagai sumber energi instan setelah seharian tubuh kekurangan glukosa," ujar Muhaimin.

Beliau juga menekankan pentingnya proporsionalitas. Istilah "manis" sering kali disalahartikan dengan mengonsumsi gula berlebih melalui kolak, es sirup, atau gorengan secara berlebihan.

Selain aspek kesehatan dan ibadah, Muhaimin mengajak pendengar untuk memaknai "berbuka dengan yang manis" secara spiritual. Menurutnya, momen berbuka adalah waktu mustajab untuk berdoa dan membersihkan hati dari dendam serta amarah.

"Jangan hanya lidahnya yang merasakan manis, tapi sikap dan ucapan kita setelah berbuka juga harus manis. Itulah hakikat kemenangan dari menahan nafsu," tambahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....