Sambut Imlek, Rupang Klenteng Krian Dimandikan Sakral
- 14 Feb 2026 09:03 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Sidoarjo – Denting lonceng dan aroma hio yang mengepul lembut mengiringi prosesi sakral di Klenteng Tri Dharma Teng Swie Bio, Krian, Kabupaten Sidoarjo. Menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang memasuki Tahun Kuda Api, pengurus bersama umat melaksanakan ritual pemandian rupang sebagai bentuk penyucian spiritual menjelang pergantian tahun.
Tradisi tahunan tersebut menjadi momentum penting bagi umat Tri Dharma di kawasan Krian. Prosesi dilakukan dengan penuh kekhidmatan setelah diyakini para Dewa “naik ke atas” pada Selasa malam. Dalam kepercayaan setempat, setelah para Dewa naik, rupang dapat diturunkan sementara untuk dibersihkan.
Ketua Klenteng Tri Dharma Teng Swie Bio, Liliana Anggraeni, mengatakan ritual ini bukan sekadar membersihkan benda suci, tetapi juga sarana introspeksi diri sebelum memasuki tahun baru. “Setiap menjelang Imlek, kami melaksanakan pemandian rupang sebagai simbol membersihkan hati dan pikiran. Setelah para Dewa diyakini naik ke atas, barulah rupang bisa kami turunkan untuk dibersihkan dengan penuh penghormatan,” ujar Liliana.
Ia menjelaskan, dalam prosesi tersebut terdapat 11 unsur pemujaan yang dimandikan, terdiri dari satu Thien (Tuhan) dan sepuluh rupang. Kesepuluh rupang itu di antaranya Kong Tek Cun Ong, Husen, Kwan Sing Tee Koen, Thian Siang, Liem Tak Ren, Hok Tek Ceng Sin, Houw Ciang Kun, Tri Suci Nabi, Kwan Im Po Sat, serta Beng Lang Kun.
Salah satu rupang yang memiliki nilai sejarah dan spiritual paling tinggi adalah Kong Tek Cun Ong, yang diyakini sebagai peninggalan leluhur klenteng. Rupang tersebut menjadi simbol kesinambungan tradisi serta penghormatan kepada para pendahulu.
Liliana menambahkan, selain rupang, pembersihan juga dilakukan pada altar dan seluruh ruangan klenteng agar suasana ibadah benar-benar bersih dan suci saat perayaan Imlek. “Hari ini kami menurunkan dan membersihkan seluruh rupang, termasuk rupang tertua peninggalan nenek moyang kami. Besok akan kami naikkan kembali untuk menyambut Tahun Baru Imlek,” katanya.
Ia juga menjelaskan media pemandian yang digunakan tahun ini adalah air teh. Menurutnya, penggunaan air teh memiliki makna simbolik dalam tradisi Tionghoa sebagai bentuk penghormatan dan kesucian.
“Tahun ini kami menggunakan air teh sebagai lambang penghormatan. Pada tahun-tahun sebelumnya kadang menggunakan bunga sebagai bentuk akulturasi budaya, tetapi maknanya tetap sama, yakni penyucian dan memohon keselamatan,” ucapnya.
Prosesi pemandian rupang ini menjadi salah satu rangkaian penting menjelang perayaan Imlek, sekaligus wujud pelestarian tradisi keagamaan dan budaya yang terus dijaga oleh umat Tri Dharma di Kabupaten Sidoarjo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....