Batik Sidoarjo, Jejak Sidokare Mendunia

  • 13 Feb 2026 23:55 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Siaran dialog di RRI Surabaya membahas batik sebagai wujud kearifan lokal. Dalam dialog itu, Nurul Huda, pemilik Rumah Batik Tulis Al Huda Sidoarjo, menegaskan batik Sidoarjo memiliki jejak sejarah panjang.

“Batik Sidoarjo itu sudah ada sejak Sidokare. Ini bukan budaya baru, melainkan warisan turun-temurun yang panjang,” ujar Nurul Huda, Jumat 13 Februari 2026.

Ia menjelaskan, perkembangan batik berkaitan dengan sosok Mbah Mulyadi yang membangun pusat aktivitas masyarakat melalui pasar, permukiman Kauman, serta Masjid Al Abror. Dari aktivitas tersebut, masyarakat mulai belajar membatik.

“Konsepnya waktu itu jelas, ada masjid, ada pasar, dan kampung Kauman. Itu konsep kota Jawa tempo dulu,” katanya.

Batik pedalaman Sidoarjo dikenal bermotif keraton dengan warna cokelat hitam lembut. Namun pengaruh pedagang Madura memunculkan motif pesisir dengan warna cerah.

“Akhirnya muncul batik Madura di Sidoarjo. Tapi batik asli Sidoarjo tetap batik pedalaman,” tegasnya.

Nurul Huda juga menyebut perbedaan karakter warna batik dipengaruhi kondisi air setempat. “Kalau dijejerkan sama-sama cerah, tapi hasilnya beda karena kandungan airnya berbeda,” jelasnya.

Setelah pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia, warna batik Sidoarjo semakin variatif. Meski begitu, karakter warna pedalaman dan pesisir tetap dipertahankan.

Ia mengakui tantangan pelestarian kini semakin berat. Banyak generasi muda memilih bekerja di sektor industri dibanding membatik.

“Anak muda lebih memilih kerja pabrik. Membatik itu perlu ketelatenan, tidak bisa instan,” katanya.

Sebagai upaya menjaga tradisi, ia rutin mengadakan pelatihan membatik. Menurutnya, aktivitas ini juga bisa menjadi peluang ekonomi masyarakat.

“Kalau budaya hidup, ekonomi kerakyatan juga ikut terangkat,” katanya a mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....