Radio, Gelombang yang Mengikat Kebersamaan
- 13 Feb 2026 15:47 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Pagi yang berbinar masih menyisakan embun di genteng-genteng kota, radio pernah menjadi suara pertama yang kita dengar sebelum dunia benar-benar bangun. Ia bukan sekadar alat. Ia adalah napas yang lirih, yang masuk ke ruang-ruang keluarga tanpa mengetuk pintu. Di meja makan, di warung kopi, di pos ronda, di kamar kos mahasiswa yang setengah lapar, radio menyampaikan kabar dan sekaligus kesunyian.
Sejak kelahirannya yang secara internasional diperingati setiap 13 Februari sebagai Hari Radio oleh UNESCO, radio adalah teknologi yang sederhana namun radikal. Ia tak membutuhkan layar. Ia tak memerlukan mata. Ia hanya meminta telinga, dan sedikit imajinasi. Mungkin karena itu radio bertahan. Ia tak menuntut kita menjadi penonton, melainkan pendengar. Itu sudah cukup meninggalkan kesan.
Di Indonesia, sejarah radio tidak bisa dilepaskan dari Radio Republik Indonesia Pada 1945, ketika republik ini masih seumur jagung dan kata “merdeka” belum mapan dalam tata bahasa politik, radio menjadi medium yang menyambungkan pusat dan pinggiran, kota dan desa, harapan dan ketakutan. Dari gelombang yang berderak, kita belajar bahwa bangsa bisa dibayangkan meminjam istilah Benedict Anderson sebagai komunitas yang saling mendengar.
Namun hari ini, ketika layar mendominasi perhatian masyarakat, radio menghadapi pertanyaan yang sama tuanya dengan usianya yakni masihkah ia relevan?
Platform digital, podcast, streaming musik, dan algoritma media sosial telah mengubah cara kita mengonsumsi suara. Kita tidak lagi menunggu jadwal siaran. Kita memilih, menunda, mengulang. Kita menjadi kurator bagi diri sendiri. Dalam dunia yang serba on demand, radio yang setia pada waktu siar dan kedisiplinan frekuensi terlihat seperti peninggalan dari masa yang lebih lambat. Tetapi justru di situ letak maknanya.
Radio adalah tentang kebersamaan yang tak direncanakan. Tentang keserentakan. Tentang mengetahui bahwa di detik yang sama, ribuan orang lain mendengar lagu yang sama, berita yang sama, tawa penyiar yang sama. Ada rasa “kita” yang tidak dibangun oleh algoritma, melainkan oleh waktu yang dibagi. Dalam masyarakat yang makin terfragmentasi, radio menyodorkan pengalaman kolektif yang nyaris purba.
Tantangan radio hari ini bukan semata-mata soal teknologi. Ia adalah soal perhatian. Perhatian adalah komoditas paling mahal dalam ekonomi digital. Platform-platform global berlomba-lomba mencuri detik demi detik dari hidup kita. Radio lokal, dengan daya jangkaunya yang terbatas dan sumber daya yang sering kali minim, harus bertarung dalam arena yang tidak seimbang.
Namun radio memiliki keunggulan yang jarang disadari yakni sebuah kedekatan. Ia mengenal nama-nama jalan di kotanya. Ia tahu kapan banjir datang, kapan pasar sepi, kapan sekolah libur karena hujan tak reda. Radio lokal berbicara dalam dialek yang akrab, menyapa dengan logat yang tak dibuat-buat. Di situlah ia menemukan relevansinya, bukan sebagai pesaing raksasa digital, melainkan sebagai penjaga ruang publik yang intim. Penuh persahabatan.
Di tengah maraknya disinformasi, radio juga menghadapi tantangan etik. Kecepatan sering kali mengalahkan ketepatan. Godaan untuk mengejar sensasi tak jarang menggerus verifikasi. Padahal radio, dengan sifatnya yang langsung dan spontan, memiliki tanggung jawab yang besar. Sekali kata terucap, ia tak bisa ditarik kembali. Gelombang tak mengenal tombol “hapus”.
Maka yang dibutuhkan bukan hanya inovasi teknologi, migrasi ke digital, integrasi dengan media sosial, pengembangan aplikasi streaming. Tetapi juga pembaruan komitmen. Komitmen pada akurasi. Pada keberagaman suara. Pada keberpihakan kepada publik, bukan semata kepada pasar.
Radio perlu menemukan kembali dirinya sebagai ruang percakapan. Bukan monolog penyiar, melainkan dialog dengan pendengar. Interaktivitas bukan sekadar membaca pesan WhatsApp di sela lagu, tetapi memberi ruang bagi warga untuk berbicara tentang hidupnya sendiri. Berbicara tentang harga beras, tentang jalan berlubang, tentang anak yang butuh beasiswa. Radio yang hidup adalah radio yang mau mendengar.
Ada pula tantangan generasi. Anak muda tumbuh dengan earphone yang tersambung ke dunia global. Mereka mungkin tak pernah memutar knop frekuensi. Tetapi mereka tetap mencintai suara lewat podcast, ruang obrolan digital, siaran langsug. Barangkali radio tidak perlu bersaing dengan format-format baru itu. Ia bisa bertransformasi, menjelma sebagai konten yang lintas platform, tanpa kehilangan rohnya sebagai penyiaran publik.
Hari Radio bukan sekadar perayaan nostalgia. Ia adalah momen untuk bertanya apa arti suara dalam kehidupan bersama? Di tengah kebisingan yang tak putus, radio mengajarkan kita tentang jeda. Tentang mendengar tanpa melihat. Tentang mempercayai kata-kata tanpa ilustrasi.
Barangkali radio tak lagi menjadi pusat perhatian. Ia mungkin hanya menemani sopir truk di jalan panjang, atau ibu-ibu yang memasak di dapur sempit, atau petugas jaga malam yang butuh teman agar tak tertidur. Tetapi justru di ruang-ruang yang tak disorot itulah radio bekerja dengan setia.
Kita hidup dalam zaman ketika setiap orang bisa menjadi penyiar, setiap gawai bisa menjadi stasiun. Namun tidak semua suara memiliki tanggung jawab publik. Radio, dengan segala keterbatasannya, masih terikat pada etika penyiaran, pada regulasi, pada kewajiban melayani kepentingan umum. Ia bukan sekadar kanal ekspresi, melainkan institusi sosial.
Mungkin masa depan radio bukan pada kebesarannya, melainkan pada ketahanannya. Ia akan tetap ada, selama masih ada orang yang ingin mendengar suara lain tanpa harus menatap layar. Selama masih ada kebutuhan akan kebersamaan yang tak dimediasi oleh algoritma.
Di hari radio ini, kita tidak sekadar mengenang masa lalu. Kita merayakan kemungkinan bahwa di antara riuh notifikasi dan cahaya layar, masih ada ruang untuk gelombang yang tak terlihat, gelombang yang menghubungkan kita dalam sunyi.
Radio, pada akhirnya, adalah tentang percaya bahwa suara manusia masih berarti. Dan selama suara itu masih dicari, radio belum selesai. Panjang Umur Kehidupan!
Penulis: Aan Haryono Komisioner KPID Jatim
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....