Serat Centhini Ungkap Konflik Majapahit dan Giri Kedhaton
- 11 Feb 2026 23:08 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Program Macapat edisi Rabu 11 Februari 2026 kembali mengangkat khazanah sastra Jawa dengan membedah fragmen Serat Centhini bertajuk Mojopahit Gempur Giri Kedhaton. Pembahasan disampaikan melalui alunan Sekar Kinanthi yang sarat makna sejarah dan filosofi.
Ki Alfaris Suwondo Saputro, Kasi Umum Yayasan Among Tani Majapahit Trowulan, Mojokerto, mengatakan Serat Centhini bukan sekadar kumpulan tembang, tetapi juga merekam jejak peristiwa besar di tanah Jawa.
Menurutnya, kisah Gempur Giri Kedhaton menggambarkan dinamika ketegangan antara Majapahit yang mulai meredup dengan Giri Kedhaton di Gresik yang berkembang sebagai pusat penyebaran Islam.
“Dalam kisah itu, doa Sunan Giri diyakini menjadi kekuatan spiritual yang melindungi Giri Kedhaton dari ancaman. Bahkan pena beliau disebut berubah menjadi Keris Kyai Kala Munyeng karena karomahnya,” ujar Ki Alfaris.
Ia menambahkan, penggunaan Sekar Kinanthi memberi nuansa reflektif karena tembang tersebut identik dengan bimbingan, kasih sayang, serta ketelitian dalam menyampaikan pesan.
Secara historis, Giri Kedaton didirikan Sunan Giri atau Raden Paku sekitar 1487 M di Gresik dan berkembang menjadi pusat dakwah sekaligus kekuatan sosial-politik. Dalam sejumlah babad, pengaruh besar Sunan Giri disebut sempat menimbulkan kekhawatiran pihak Majapahit.
Ki Alfaris menilai kisah tersebut merefleksikan masa transisi penting dari kerajaan bercorak Hindu-Buddha menuju era kerajaan Islam di Jawa. Ia juga menekankan pentingnya generasi muda memahami literatur klasik agar tidak terputus dari akar sejarah dan budaya.
“Sejarah itu cermin. Kalau cerminnya retak, kita sulit melihat diri dengan jelas. Lewat program ini kami mencoba merekatkan kembali potongan-potongan sejarah itu,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....