Wujudkan Kasih Sayang Bermakna bagi Anak Disabilitas Netra
- 08 Feb 2026 11:53 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Memasuki bulan Februari yang identik dengan momentum kasih sayang, RRI Pro 4 Surabaya menggelar Dialog Disabilitas pada Minggu, 8 Februari 2026. Mengusung topik "Kasih Sayang Yang Sesuai Untuk Anak Disabilitas Netra", dialog kali ini menghadirkan Rizal Kurniawan, Ketua Biro Humas & Publikasi DPD Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) Jawa Timur.
Dalam balutan diskusi yang interaktif, Rizal menekankan bahwa bentuk kasih sayang terbaik dari orang tua dan lingkungan kepada anak disabilitas netra bukanlah rasa kasihan yang berlebihan (pity), melainkan pemberian kesempatan dan kepercayaan. Seringkali, orang tua merasa tidak tega dan akhirnya melakukan segala hal untuk anak disabilitas netra.
Menurut Rizal, pola asuh seperti ini justru bisa menghambat perkembangan kemandirian anak. "Kasih sayang itu tidak berarti 'melayani' secara total hingga anak tidak melakukan apa-apa. Kasih sayang yang benar adalah memberikan ruang bagi mereka untuk mencoba, gagal, dan belajar. Kita harus mengubah paradigma dari kasihan menjadi pemberdayaan," ujar Rizal di Studio RRI Pro 4 Surabaya.
Rizal membagikan tiga poin utama yang perlu diperhatikan oleh keluarga:
Penerimaan Diri (Acceptance): Orang tua harus tuntas dengan perasaannya sendiri agar anak merasa diterima sepenuhnya sebagai individu yang utuh.
Aksesibilitas Informasi: Menunjukkan kasih sayang dengan cara mendeskripsikan dunia visual melalui kata-kata, sehingga anak memiliki imajinasi dan pengetahuan yang setara.
| Baca juga: Konflik Keluarga Dikelola dengan Nilai Islam |
Pelibatan dalam Aktivitas Domestik: Mengajak anak terlibat dalam tugas rumah tangga sederhana untuk membangun rasa percaya diri bahwa mereka berguna.
Selain peran keluarga, Rizal juga menyoroti pentingnya masyarakat untuk tidak bersikap diskriminatif. Ia mengajak publik untuk berinteraksi secara wajar tanpa harus merasa canggung.
"Jangan takut untuk menyapa atau menawarkan bantuan. Tapi ingat, tanyakan dulu apakah mereka butuh bantuan atau tidak. Menghargai otonomi mereka adalah bentuk kasih sayang sosial yang paling tinggi," katanya.
Dialog ini diakhiri dengan pesan menyentuh bahwa disabilitas hanyalah sebuah cara hidup yang berbeda, bukan penghalang untuk mencintai dan dicintai secara bermartabat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....