Ketua ISKI Jatim: AI Rawan Hilangkan Sentuhan Manusia
- 06 Feb 2026 14:32 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dalam praktik komunikasi dinilai membawa manfaat besar, namun juga berpotensi menimbulkan risiko jika tidak disertai pertimbangan etika dan empati. Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur, Sukowidodo, mengingatkan teknologi bisa menjadi problematik ketika tidak lagi sekadar alat bantu komunikasi.
“Teknologi menjadi problematik ketika ia tidak lagi berfungsi sebagai alat bantu, tetapi menjadi penentu utama keputusan komunikasi. Jika proses komunikasi dilepaskan dari pertimbangan empatik, etis, dan kontekstual, praktik humas berpotensi kehilangan dimensi kemanusiaannya,” ujar Sukowidodo.
Ia menjelaskan, disrupsi bukan pada penggunaan AI atau otomasi itu sendiri, melainkan saat komunikasi hanya didasarkan pada efisiensi algoritmik seperti kecepatan, keterulangan, dan optimasi klik tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat. Kondisi tersebut dinilai dapat mereduksi “ruh” komunikasi.
Menurut Sukowidodo, kompetensi manusia yang tetap mahal dan tak tergantikan di era teknologi adalah kemampuan penilaian manusia atau human judgment. “Mesin dapat memproduksi pesan, tetapi hanya manusia yang dapat memastikan pesan itu bermakna, bertanggung jawab, serta sesuai konteks sosial dan budaya,” katanya.
Ia juga mengingatkan organisasi yang terlalu mengandalkan teknologi tanpa sentuhan humanis berisiko mengalami erosi kepercayaan publik secara perlahan. Komunikasi yang terasa mekanis bisa memunculkan persepsi tidak tulus hingga manipulatif.
“Risiko terbesar bukan sekadar krisis reputasi jangka pendek, tetapi hilangnya kepercayaan publik secara perlahan. Publik bisa menjadi tidak peduli, dan itu kegagalan reputasi paling serius,” katanya.
Terkait strategi komunikasi, Sukowidodo menilai konten etis tetap bisa bersaing di tengah dominasi algoritma. Ia menekankan pentingnya storytelling berbasis pengalaman manusia, emosi autentik, kejelasan nilai, serta membangun dialog dengan publik.
“Empati, harapan, dan kejujuran juga memiliki daya sebar kuat jika dikemas kreatif dan relevan. Konten etis bukan berarti tidak bisa viral,” ucapnya.
Selain itu, ia menilai indikator keberhasilan humas perlu diredefinisi. Engagement rate dinilai masih penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya tolok ukur.
“Ke depan humas perlu mengukur kualitas relasi, tingkat kepercayaan publik, konsistensi nilai komunikasi, serta dampak sosial jangka panjang,” katanya.
Sukowidodo juga berpesan kepada praktisi humas generasi Z agar tidak mengorbankan makna demi viralitas sesaat. “Viral bersifat temporer, sementara reputasi bersifat akumulatif. Setiap konten bukan hanya representasi institusi saat ini, tetapi juga jejak nilai yang akan dinilai publik di masa depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, profesi komunikator perlu memperkuat kembali fondasi reflektif seperti etika, nalar kritis, dan kepekaan sosial agar tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....