Sosiolog Unair Soroti Tragedi Kematian Siswa SD Ngada
- 05 Feb 2026 21:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Indonesia kembali diguncang tragedi kematian YBR, siswa SD berusia 10 tahun asal Ngada, Nusa Tenggara Timur. Guru Besar Sosiologi FISIP Unair, Prof. Dr. Bagong Suyanto ikut berkomentar pada peristiwa yang terjadi saat YBR ditemukan meninggal di kebun neneknya.
Penemuan pertama diketahui saksi KD sekitar pukul 11.00 WITA di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu. KD menemukan korban dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh dekat pondok kebun.
Tragedi ini mengejutkan keluarga dan warga, sekaligus membuka perhatian serius terhadap kesehatan mental anak. Berbagai pihak menilai tekanan sosial dapat memengaruhi kondisi psikologis anak di lingkungan terpencil.
Bagong Suyanto, menyebut kejadian ini peringatan penting. Ia menegaskan, pemantauan psikologis anak di sekitar harus menjadi perhatian bersama.
“Anak di daerah terpencil sering kekurangan perhatian psikologis dan akses layanan pendampingan,” ujar Bagong, Kamis, 5 Februari 2026. Kondisi tersebut membuat sebagian anak merasa terisolasi dan minim dukungan sosial.
YBR dikenal pendiam dan tinggal bersama neneknya sejak balita di pondok bambu sederhana. Ayahnya merantau ke Kalimantan lebih dari sepuluh tahun dan belum kembali.
“Tekanan kemiskinan dapat memicu stres dan kecemasan anak,” kata Prof. Bagong. Ia menekankan dampaknya terasa saat kebutuhan dasar keluarga sulit terpenuhi.
Prof. Bagong mendorong penguatan community support system melalui lembaga sosial lokal. “Jaringan dukungan harus menjangkau keluarga dengan akses pendidikan dan layanan terbatas,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....