IPM–UNICEF Cegah Pernikahan Dini dan FGM

  • 29 Jan 2026 19:41 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) bekerja sama dengan UNICEF menggelar kegiatan Voicing Our Identity, Courage and Empowerment (VOICE) sebagai upaya pencegahan pernikahan dini dan sunat perempuan atau female genital mutilation (FGM). Hal itu disampaikan fasilitator sosialisasi, Nur Fitria, saat diwawancarai tim RRI melalui sambungan telepon, Kamis 29 Januari 2026.

Nur Fitria menjelaskan, pernikahan dini merupakan perkawinan yang dilakukan oleh anak di bawah usia 18 tahun dan berisiko tinggi terhadap kesehatan, pendidikan, serta masa depan anak. “Child married itu berdampak panjang, mulai dari putus sekolah, risiko kesehatan reproduksi, sampai kesiapan mental yang belum matang,” ujarnya.

Selain pernikahan dini, Fitria menyoroti praktik sunat perempuan yang masih dijumpai di sejumlah daerah di Indonesia. Ia menegaskan bahwa FGM adalah tindakan pemotongan atau pelukaan alat kelamin perempuan untuk alasan nonmedis. “WHO dan UNICEF sudah mengategorikan FGM sebagai pelanggaran hak asasi manusia karena tidak memiliki manfaat kesehatan sama sekali,” katanya.

Menurut Fitria, maraknya FGM dipengaruhi oleh faktor budaya, tekanan sosial, minimnya pengetahuan, serta kekeliruan dalam menafsirkan ajaran agama. “Banyak masyarakat yang mengira sunat perempuan adalah ajaran agama, padahal tidak ada dalil Al-Qur’an maupun hadis yang secara eksplisit memerintahkan praktik tersebut,” jelasnya.

Kegiatan VOICE dilaksanakan pada 24 hingga 26 Januari 2026 dan dibagi ke dalam dua regional, yakni Gorontalo dan Surabaya. Program ini berisi pelatihan serta penguatan pengetahuan bagi pelajar tentang pencegahan pernikahan anak dan FGM yang dinilai masih menjadi persoalan serius di masyarakat.

Pada hari terakhir kegiatan, para peserta ditugaskan untuk melakukan sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah Muhammadiyah. Fitria bersama timnya mendapat penugasan di SMA Muhammadiyah 3 Surabaya. “Kami turun langsung sebagai fasilitator untuk menyampaikan dampak child married dan FGM kepada teman-teman SMA,” tuturnya.

Dari hasil sosialisasi tersebut, Fitria menemukan fakta bahwa sebagian besar peserta didik telah akrab dengan cerita tentang pernikahan dini dan sunat perempuan sebagai tradisi yang dianggap wajar. “Mereka banyak mendengar praktik itu di lingkungan sekitar, bahkan di keluarga sendiri,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, IPM dan UNICEF berharap pelajar memiliki keberanian untuk memilih melanjutkan pendidikan dan meraih cita-cita tanpa terjebak pernikahan dini. “Sosialisasi ini adalah bentuk kepedulian dan kekhawatiran kami terhadap dua fenomena tersebut, agar generasi muda lebih sadar, berdaya, dan terlindungi,” pungkas Nur Fitria

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....