Iman Harus Terlihat dalam Sikap Muslim

  • 28 Jan 2026 09:22 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus tercermin dalam sikap dan perilaku seorang Muslim sehari-hari. Hal itu disampaikan Ustad Amirullah, Dai PD Persis Sumenep, dalam program Mutiara pagi di RRI Pro 1 Surabaya, Rabu (28/1/2026).

Menurutnya, pernyataan iman menuntut bukti nyata dalam kehidupan pribadi maupun sosial. “Iman bukan sekadar pengakuan lisan. Apa yang diyakini dalam hati harus tampak dalam perbuatan, minimal memberi dampak pada diri sendiri, dan lebih luas lagi pada orang lain,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Al-Qur’an banyak memuat penegasan tentang ciri keimanan yang benar. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 15, orang beriman digambarkan sebagai mereka yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa keraguan, serta membuktikan keyakinan itu melalui amal dan pengorbanan di jalan Allah.

 Sikap yakin tersebut tercermin dalam kepedulian sosial, seperti menyantuni anak yatim, berbuat baik, dan menjalankan ajaran agama secara konsisten. “Keyakinan itu harus mantap, tidak ada keraguan terhadap Allah dan ajaran-Nya,” kata Ustad Amirullah.

Selain keyakinan yang kuat, iman juga melahirkan sikap berserah diri kepada Allah. Ia mengingatkan bahwa segala yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah, termasuk harta dan kehidupan manusia. 

Karena itu, manusia dipandang sebagai penerima titipan yang wajib dikelola sesuai ketentuan-Nya. “Apa yang kita miliki sejatinya milik Allah, maka pengelolaannya pun harus sesuai dengan aturan-Nya,” jelasnya.

Ciri lain dari iman, lanjutnya, adalah kesiapan untuk mendengar dan taat terhadap perintah Allah dan Rasul. Prinsip ini sejalan dengan Surah An-Nur ayat 51 yang menggambarkan respons orang beriman ketika dipanggil kepada hukum Allah dan Rasul. 

“Ketika mendengar perintah Allah, sikap mukmin adalah melaksanakan, dan ketika mendengar larangan, ia menjauhi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kewajiban mengikuti aturan yang telah ditetapkan Allah tanpa membuat ketentuan sendiri yang bertentangan dengan syariat. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 36 ditegaskan bahwa seorang mukmin tidak memiliki pilihan lain ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar perintah Allah tidak dijalankan dengan rasa terpaksa atau berat hati. Keikhlasan menjadi bagian dari kualitas iman, sehingga ketaatan lahir dari kesadaran, bukan dorongan hawa nafsu semata. 

“Perintah Allah tidak seharusnya terasa berat jika dijalani dengan iman yang benar,” tuturnya.

Menutup kajian, Ustad Amirullah menegaskan bahwa keimanan yang benar tidak bersifat memilih-milih ajaran. “Semua ketentuan Allah diterima dengan lapang, baik yang ringan maupun yang terasa berat. Di situlah kualitas iman seorang Muslim terlihat,”ujarnya mengakhiri tausiyah pagi tadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....