Makna Emban Cinde Emban Siladan dalam Kehidupan Sosial

  • 18 Jan 2026 23:06 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Tanjung Perak Malam Apresiasi Budaya yang digelar Minggu, (18/01/2026), mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Jawa melalui pembahasan peribahasa Emban Cinde Emban Siladan. Kegiatan budaya ini menjadi ruang refleksi tentang keadilan sosial yang masih relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Narasumber Cak Ries menjelaskan bahwa peribahasa Emban Cinde Emban Siladan berbicara tentang keadilan dan sikap tidak pilih kasih. Nilai tersebut menurutnya ditujukan tidak hanya untuk pemimpin bangsa, tetapi juga masyarakat luas hingga lingkup keluarga.

“Emban Cinde Emban Siladan berbicara tentang keadilan, tidak pilih kasih, menghormati yang lain. Jadi ini untuk pemimpin bangsa kita, juga untuk masyarakat semua, untuk keluarga juga bisa, jadi untuk semua orang tidak emban cinde emban siladan,” ujar Cak Ries.

Sementara itu, Cak Raflie memaparkan makna filosofis peribahasa tersebut. Ia menyebut Emban Cinde Emban Siladan menggambarkan perlakuan yang berbeda secara tidak adil terhadap seseorang atau sesuatu.

“Emban cinde emban siladan adalah peribahasa Jawa yang artinya perlakuan pilih kasih, mau memperlakukan sesuatu, seseorang dengan berbeda secara tidak adil. Emban cinde itu berarti menggendong dengan kain sutra terbaik, sedangkan emban siladan berarti menggendong dengan bilah bambu yang tajam,” jelas Cak Raflie.

Cak Ries kemudian menguraikan perbandingan tersebut secara lebih detail. Menurutnya, cinde adalah kain sutra batik yang halus, kuat, dan bermotif indah, sedangkan siladan merupakan bilah bambu tipis yang sangat tajam.

“Coba bayangkan, digendong kok pakai siladan, kan tajam pasti kebeler sakit,” kata Cak Ries, menggambarkan betapa timpangnya perlakuan yang dimaksud dalam peribahasa tersebut.

Peribahasa ini kerap digunakan untuk menggambarkan ketidakadilan dalam keluarga, misalnya ketika orang tua memiliki dua anak namun memperlakukan keduanya secara berbeda, satu dimanja dan satu lainnya diabaikan. Kondisi inilah yang disebut sebagai Emban Cinde Emban Siladan.

Dalam kesempatan itu, Cak Ries dan Cak Raflie juga membagikan pengalaman pribadi tentang ketidakadilan sederhana yang pernah mereka alami saat mengantre pompa sepeda motor di SPBU. Meski terlihat sepele, kejadian tersebut dinilai dapat melukai perasaan dan menimbulkan kekecewaan.

Menurut mereka, nilai keadilan harus terus dilatih dalam kehidupan sehari-hari. Etika, tata krama, empati, dan simpati perlu dibiasakan sejak hal-hal kecil agar masyarakat mampu membangun kehidupan sosial yang lebih adil dan saling menghormati.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....