Dosen Psikologi Untag Ajak Terapkan Disiplin Positif Siswa

  • 19 Okt 2025 21:56 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Sayidah Aulia ul Haque, M.Psi., menegaskan sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tapi berperan penting membentuk karakter agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang pintar dan berbudi.

Menurutnya, peristiwa kekerasan yang diduga dilakukan guru terhadap murid karena tidak mengikuti kerja bakti dan merokok sangat memprihatinkan. Ia menilai, hal ini menunjukkan perlunya keseimbangan antara kedisiplinan dan pendekatan psikologis di sekolah.

Aulia menjelaskan, perilaku menolak kerja bakti dan merokok bisa menjadi bentuk pencarian identitas diri. Tindakan itu juga bisa menjadi ekspresi perlawanan terhadap otoritas di masa remaja.

“Remaja sebenarnya sudah cukup mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,” ujarnya, Minggu (19/10/2025). Hal ini, lanjutnya, sesuai dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget.

Dalam teori Piaget, remaja telah berada pada tahap berpikir operasional formal. Artinya, mereka mampu memahami konsep aturan, konsekuensi, serta budaya tempat mereka berada.

Karena itu, Aulia menekankan pentingnya kehati-hatian pendidik dalam menyikapi perilaku siswa. Guru diharapkan tetap menegakkan disiplin tanpa menimbulkan rasa takut maupun kekerasan.

Ia menambahkan, prinsip disiplin positif dapat menjadi alternatif efektif bagi lingkungan sekolah. Prinsip ini menumbuhkan kesadaran siswa untuk menaati aturan tanpa dorongan rasa takut terhadap hukuman.

“Pendekatan seperti ini membantu siswa belajar tanggung jawab secara mandiri,” ungkapnya. Selain itu, pendekatan ini juga menumbuhkan rasa hormat terhadap aturan dan nilai sosial.

Aulia menilai, penerapan disiplin positif dapat memperkuat hubungan guru dan murid. Alih-alih memberi hukuman yang melukai, sekolah sebaiknya menerapkan konsekuensi yang disepakati bersama secara sadar.

Dengan begitu, proses pendidikan dapat berlangsung lebih harmonis dan berorientasi pada pembentukan karakter. Ia menekankan bahwa kedisiplinan yang bijak akan memberi dampak positif bagi iklim belajar.

Ia berharap, semua pihak dapat belajar dari insiden tersebut untuk menciptakan sekolah yang aman dan manusiawi. Sekolah, katanya, seharusnya menjadi tempat tumbuhnya nilai moral, bukan rasa takut.

“Namun di sisi lain, siswa juga diharapkan lebih sadar dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya di sekolah. Hal ini penting sebagai proses pembentukan diri generasi gemilang penerus bangsa,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....