Mengenal Dasa Pitutur Yang Diajarkan Oleh Sunan Kalijaga
- 30 Sep 2025 06:14 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya : Dasa Pitutur menjadi topik pembahasan menarik dalam diskusi Apresiasi Budaya Pro4 RRI Surabaya malam hari ini, Minggu (07/09/2025). Dengan menghadirkan narasumber pecinta budaya nusantara yakni Cak Ries dan Cak Raflie.
Untuk diketahui bila “Dasa Pitutur” ini merupakan sepuluh filosofi atau nasihat yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga dalam bahasa Jawa. “Dasa Pitutur ini memiliki bertujuan untuk membimbing masyarakat agar menjalani hidup yang penuh kebijaksanaan, manfaat bagi sesama, dan tidak terjerumus dalam keserakahan duniawi”, ujar Cak Ries.
Sementara itu menurut Cak Raflie bila relevansi Dasa Pitutur justru semakin terasa di era modern. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial, masyarakat membutuhkan landasan etika yang kuat agar tidak terhanyut oleh perilaku instan maupun sikap individualis. “Pitutur leluhur selalu mengingatkan kita untuk kembali ke akar budaya sebagai penuntun langkah,” ungkapnya.
Berikut DÅSÅ PITUTUR. Pitutur adiluhung leluhur Jawa :
1. Urip Iku Urub.
Hidup itu menyala. Memberi cahaya terang dan manfaat bagi sesama, meski tidaklah berkobar-kobar.
Catatan : 90% lebih orang menulis : "Urip Iku Urup", padahal secara kaidah bahasa Jawa, itu SALAH.
· Urup, artinya : [1] tukar, ganti. [2] setimbang, setara. [2] kurúp, pantas, sesuai -dengan upaya, kerepotan-.
· URUB, artinya : [1] nyala api, percikan cahaya api. [2] asal mula, permulaan.
2. Mêmayu Hayuning Bawånå. Ambrasthå Dur Angkårå.
Berpartisipasi dengan perbuatan nyata dalam menjaga dan memperindah kebaikan dunia. Berusaha menyirnakan sifat angkara murka (dalam diri sendiri).
Catatan : Kedua kalimat tersebut sebenarnya tidak menjadi satu bagian. "Mêmayu Hayuning Bawånå", cakupan dan penjabarannya sangatlah luas. "Ambrasthå Dur Angkårå", merupakan penjelasan kelanjutan (pencapaian) dari suatu "kawruh" dan "laku" (pengetahuan dan perbuatan).
3. Surå Dirå jåyåningrat, lêbur dèning pangastuti.
Berani berdusta dan berbuat jahat untuk mencapai kejayaan di dunia, pada waktunya akan hancur oleh kebenaran dan budi pekerti luhur.
Catatan : Kalimat tersebut dipetik dari pupuh Kinanthi, sêrat "Witaradya" karya R.Ng Rangga Warsita (1802-1873), pujangga Kasunanan Surakarta.
4. Sugih tanpå båndhå. Digdåyå tanpå aji. Nglurug tanpå bålå. Mênang tanpå ngasoraké.
- Jika dicermati ini sebenarnya diperuntukkan bagi guru tapi dengan berkembangnya waktu ini menjadi nasehat keabikan dalam berbagai bidang.
- Kaya tanpa harta benda ('kaya' dalam hal ilmu pengetahuan, teman dan saudara, juga dalam kebajikan, yang berguna bagi sesama).
- Unggul tanpa ilmu kesaktian. Sikap serta perbuatan baik dan benar menjadikan disegani, sehingga tidak membutuhkan ilmu kesaktian.
- Menyerang tanpa pasukan. Berani dan bisa menghadapi persoalan yang datang tanpa bergantung pada orang lain.
- Menang tanpa merendahkan. Sekalipun pada kondisi dan posisi yang lebih unggul (harta, derajat, ilmu) namun tidak merendahkan ataupun menindas yang lebih rendah.
Catatan : Kalimat tersebut adalah filosofi hidup Raden Mas Panji Sosrokartono (1877-1951), kakak dari Raden Ajeng Kartini, putra RM. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara.
5. Datan sêrik lamun kêtaman, datan susah lamun kèlangan.
Tidak sakit hati ketika direndahkan, tidak bersedih ketika kehilangan. Ini merupakan pelajaran bagaimana manusia untuk bersikap sabar dan ikhlas.
Catatan : Kalimat tersebut dipetik dari sêrat "Wedhatama", karya KGPAA Sri Mangkunegara IV, pådå 43, pupuh Pucung.
6. Åjå Gumunan. Åjå Gêtunan. Åjå Kagètan. Åjå Alêman.
Jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah menyesali. Jangan mudah terkejut. Jangan suka merajuk.
7. Åjå Kêtungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan, Lan Kamarêman.
Janganlah mabuk (mencintai secara berlebihan) akan pangkat drajat, harta benda, dan kenikmatan duniawi.
8. Åjå Kumintêr Mundhak Kêblingêr. Åjå Cidrå Mundhak Cilåkå.
Jangan sok (merasa) pintar, karena akan kesasar. Jangan mengingkari kesanggupan, karena akan celaka.
Catatan : Jangan merasa pintar, hanya karena tahu dan bisa meniru (copy paste), seyogyanya terlebih dahulu pelajari, dimengerti, pahami, lakukan, sebelum membagikan ilmu, pengetahuan, kepada orang lain.
9. Åjå Mèlik Barang Kang Mêlok. Åjå Mangro Mundhak Kêndho.
Jangan menginginkan barang yang terlihat indah namun sebenarnya tidak dibutuhkan. Jangan mendua hati agar tidak mudah menyerah -dalam menggapai impian-.
Catatan : Kalimat "Åjå mèlik barang kang mêlok, mêrgå pingin kêsêlak muluk", yang berarti : "jangan menginginkan sesuatu yang tampak indah mempesona karena ingin seketika menjadi pusat perhatian (terkenal)", dipopulèrkan lewat têmbang "Dårå Muluk", karya swargi Ki Nartasabda (Ki Nartosabdo). Bisa disimpulkan bahwa sebenarnya kedua kalimat tersebut tidak berkaitan, namun berdiri sendiri-sendiri.
10. Åjå Adigang, Adigung, Adigunå.
Jangan menyombongkan dan mengandalkan kekuasaan, kekuatan, ataupun kepandaian.
Catatan : Kalimat "Adigang, Adigung, Adigunå" dipetik dari sêrat "Wulangreh", karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Surakarta. "Adigang" adalah kiasan kijang yang mengandalkan lompatan serta lari kencangnya. "Adigung" adalah kiasan gajah yang mengandalkan kebesaran badannya. Sedangkan "Adigunå" adalah kiasan ular yang mengandalkan bisanya. Ketiga-ketiganya mendapat celaka karena mengandalkan kelebihannya, ... sehingga tidak waspada akan kemampuan lawan dan perubahan keadaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....