Tedak Siten, Tradisi Kuno dalam Keluarga Jawa

  • 20 Feb 2025 15:51 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Tedak Siten merupakan salah satu tradisi adat Jawa yang masih dilestarikan hingga kini. Upacara ini menandai peristiwa penting dalam kehidupan seorang anak, yakni saat ia mulai belajar berjalan. Tedak Siten berasal dari kata "tedak" yang berarti "melangkah" dan "siten" yang berarti "tanah". Tradisi ini menggambarkan simbolik kesiapan anak untuk menapaki kehidupan di dunia.

Tedak Sinten merupakan tradisi yang dilakukan sebagai peringatan bagi manusia akan pentingnya makna hidup di dunia yang memiliki hubungan yakni hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, serta dengan lingkungan alam sekitar. Tradisi ini berlangsung saat anak berusia 7 lapan kalender jawa atau 8 bulan kalender masehi. Dalam usia tersebut biasanya anak mulai menapakkan kakinya ke tanah.

Melansir dari Dinas Kebudayaan, Yogyakarta (Kundha Kabudayan), bahwa tradisi ini bukan hanya sekedar perayaan, namun juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Proses upacara ini menggambarkan harapan orang tua agar anaknya tumbuh menjadi individu yang mandiri, berakhlak baik, dan sukses dalam kehidupannya.

Dalam prosesi Tedak Sinten perlu dipersiapkan Uba Rampe atau perlengkapan, diantaranya yaitu, jadah 7 warna warni, tangga yang terbuat dari tebu, kurungan (biasanya berbentuk seperti kurungan ayam), alat tulis, mainan dalam berbagai bentuk, air untuk membasuh dan memandikan anak, ayam panggang, pisang raja, udhik-udhik, jajan pasar, berbagai jenis jenang, tumpeng lengkap dengan gudangan dan nasi kuning.

Tedak Sinten diadakan sebagai pengharapan kelak jika anak sudah dewasa akan kuat dan mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan yang penuh tantangan dan harus dihadapinya untuk mencapai cita-cita. Selain itu tradisi ini sebagai perwujudan rasa syukur karena pada usia ini si anak sudah akan mulai mengenal alam sekitar dan mulai belajar berjalan.

Tedak Siten bukan hanya sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga memiliki nilai pendidikan, sosial, dan budaya yang kaya. Tradisi ini mengajarkan pentingnya persiapan, doa, dan restu keluarga dalam setiap langkah kehidupan seorang anak. (Estu/MG)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....