Asal Usul dan Sejarah Tradisi Hampers

  • 29 Des 2024 20:30 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Hampers, yang kini populer sebagai bingkisan atau paket hadiah yang dirancang dengan menarik, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai perayaan, seperti Hari Raya, Natal, hingga acara spesial lainnya. Namun, tradisi ini memiliki sejarah panjang yang kaya akan makna budaya dan sosial.

Konsep hampers berasal dari Eropa, khususnya Inggris, pada abad ke-11. Istilah "hamper" sendiri diambil dari bahasa Prancis Kuno, "hanapier," yang berarti keranjang untuk membawa barang. Awalnya, hampers digunakan sebagai wadah untuk mengirimkan makanan dan kebutuhan pokok, terutama kepada keluarga miskin atau pekerja selama masa-masa sulit.

Tradisi ini berkembang pesat pada era Victoria di Inggris (abad ke-19). Saat itu, para bangsawan Inggris mulai mengirimkan hampers kepada staf atau kerabat mereka sebagai bentuk perhatian dan rasa terima kasih, terutama menjelang Natal. Isi hampers biasanya berupa makanan, minuman, hingga pakaian, yang dianggap membantu penerimanya dalam menghadapi musim dingin.

Meski konsep hampers berakar dari Eropa, tradisi memberikan bingkisan serupa juga ditemukan di berbagai budaya. Di Asia, termasuk Indonesia, tradisi berbagi makanan atau hadiah selama perayaan telah ada sejak lama. Misalnya, tradisi membawa hantaran saat pernikahan atau berbagi parsel saat Lebaran.

Di Amerika, hampers dikenal sebagai "gift baskets" dan sering diberikan dalam berbagai kesempatan, termasuk acara bisnis atau ulang tahun. Sementara itu, di Jepang, budaya memberikan hadiah seperti omiyage (oleh-oleh) atau oseibo (hadiah akhir tahun) memiliki filosofi yang mirip dengan hampers, yaitu menunjukkan rasa syukur dan perhatian.

Dilansir dari kominfo.jatimprov.go.id, berbagi bingkisan masih tidak populer pada masa pemerintahan Soekarno. Namun, masyarakat luas kemudian mulai melakukan budaya tersebut sejak tahun 1980-an dengan istilah berbagi parsel. Pada saat itu, parsel berisi makanan khas lebaran.

"Awalnya memang makanan, tetapi kemudian isi parsel berubah seiring perkembangan zaman. Ada yang pakaian, barang pecah belah seperti cangkir, dan bunga," ujar Moordiati, Dosen Sejarah Universitas Airlangga.

Dalam perkembangannya, hampers tidak lagi sekadar berisi kebutuhan pokok. Isi hampers kini semakin bervariasi, mulai dari makanan gourmet, produk perawatan tubuh, hingga barang-barang mewah seperti anggur premium atau produk elektronik.

Desain hampers juga semakin kreatif, dengan kemasan yang elegan dan menarik. Tren personalisasi, di mana hampers dirancang sesuai dengan preferensi atau tema tertentu, semakin diminati. Selain itu, platform e-commerce mempermudah pengiriman hampers ke berbagai tempat, menjadikannya solusi praktis untuk berbagi di era modern.

Meskipun tampilannya berubah, esensi hampers tetap sama: simbol kasih sayang, perhatian, dan apresiasi. Dalam budaya modern yang semakin sibuk, hampers menjadi cara praktis namun bermakna untuk menunjukkan kepedulian terhadap orang terkasih, mitra bisnis, atau kolega.

Dari tradisi kuno hingga tren masa kini, hampers terus berkembang sebagai salah satu bentuk hadiah yang menghubungkan hati dan mempererat hubungan antar manusia. Tradisi ini menunjukkan bahwa di balik setiap bingkisan, terdapat niat tulus yang menjadikan hampers lebih dari sekadar hadiah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....