Sosiolog Unesa Menyebut Belanja jelang Lebaran Merupakan Konstruksi Sosial

  • 15 Mar 2026 22:59 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Dosen Sosiologi Universitas Negeri Surabaya Putri Dwi Permata Indah, S.Sos., M.Sosio menyebut kecenderungan masyarakat untuk berbelanja barang baru menjelang lebaran merupakan fenomena konstruksi sosial budaya.

Konstruksi sosial budaya adalah proses pembentukan makna, norma, serta realitas kehidupan melalui interaksi sosial dan kebudayaan yang sedang berlaku pada suatu masa.

Lebih lanjut Putri saat di wawancara RRI Minggu 15 Maret 2026 menjelaskan awal mula budaya konstruksi sosial yang di kemukakan tokoh sosiologi Peter L. Berger & Thomas Luckmann berkembang dari masyarakat kapitalis.

“Menurut sosiologi ada teori konstruksi sosial, yang dimana perspektif itu muncul dari kalangan kapitalis, jadi kita lihat yang membeli barang atau baju-baju baru itu bukan hanya dari kalangan tertentu saja, tapi hampir semua kalangan,” ungkapnya.

Dalam pengertian budaya konstruksi sosial tersebut, dirinya melihat bahwa fenomena berbelanja jelang lebaran tidak murni untuk mencukupi kebutuhan, namun terdapat aspek penyaluran ekspresi diri dan juga untuk menunjukkan status sosial seseorang.

“Nah kalau kita lihat memang konsumsi ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar saja. Tapi di situ juga ada fungsi lain sebagai sarana mengekspresikan diri dan simbol status sosial,” ujarnya.

Menurutnya selain dorongan dari diri sendiri, fenomena tersebut juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tokoh masyarakat, media sosial, dan tren yang sedang naik daun.

“Dorongannya jelas dari media sosial, tren yang sedang berkembang, atau bahkan role model yang sedang dilihat pada masa itu, meskipun faktor inisiatif diri sendiri juga sangat berpengaruh untuk mengkonstruksi sebuah ide,” ucapnya.

Sebagai budaya konstruksi sosial yang sudah lama dilakukan oleh masyarakat, fenomena tersebut dirasa cukup sulit mengalami perubahan karena telah dialami dan dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia.

Mengenai dampak, ia melihat sejauh ini fenomena tersebut masih dalam koridor wajar dan tidak menimbulkan gesekan antar masyarakat sosial, namun tiap individu diharap untuk bijak dalam berbelanja dan mengatur perputaran ekonomi masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....