Tradisi Mudik Dorong Silaturahmi dan Dampak Ekonomi Daerah

  • 06 Mar 2026 13:19 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya: Tradisi mudik menjelang Hari Raya Idulfitri menjadi fenomena sosial yang terus berlangsung dari masa ke masa. Aktivitas ini tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan pulang kampung, tetapi juga memiliki makna sosial, budaya, hingga ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat. Fenomena tersebut menjadi bagian dari dinamika mobilitas masyarakat antara desa dan kota yang terus berulang setiap tahun.

Dosen Pendidikan IPS Universitas Negeri Surabaya, Ali Imron, menjelaskan bahwa mudik merupakan fenomena sosial yang lazim terjadi karena banyak masyarakat kota sebenarnya berasal dari desa atau merupakan pendatang yang merantau untuk bekerja. Mobilitas ini bersifat sirkuler, yakni masyarakat kembali ke kampung halaman dalam waktu tertentu lalu kembali lagi ke kota untuk melanjutkan aktivitas pekerjaan.

“Orang kota sebagian besar sebenarnya berasal dari desa atau pendatang. Karena itu mereka tidak pernah lupa dengan tempat asalnya. Mudik menjadi pola sirkuler, kembali ke desa dalam waktu tertentu lalu kembali lagi ke kota untuk bekerja,” ujar Ali Imron. Jumat, 6 Maret 2026.

Menurutnya, tradisi mudik tidak sekadar menjadi momen silaturahmi keluarga, tetapi juga memperkuat identitas sosial dan budaya masyarakat. Banyak perantau yang telah bekerja di kota membawa sebagian hasil kerja keras mereka ke kampung halaman sebagai bentuk berbagi rezeki dengan keluarga. Hal ini menjadi salah satu bentuk nyata hubungan ekonomi antara kota dan desa.

Selain itu, mudik juga dapat memberikan dampak ekonomi musiman bagi daerah asal. Para perantau tidak hanya membawa uang, tetapi juga berpotensi membuka peluang usaha atau investasi kecil di desa. Aktivitas tersebut mampu menggeliatkan perekonomian lokal melalui berbagai kegiatan ekonomi seperti perdagangan, jasa, hingga usaha rumahan.

“Ketika orang yang bekerja di kota pulang kampung, biasanya ada penghasilan yang dibawa dan dibagikan kepada keluarga. Bahkan ada yang kemudian membuka usaha di desa atau mengajak keluarganya bekerja di kota. Ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi baik bagi individu maupun wilayah,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya tren negatif dari sisi ekonomi saat mudik, yakni meningkatnya gaya hidup konsumtif. Ia menilai masyarakat perlu lebih bijak dalam mengelola pengeluaran agar tidak terjebak pada pemborosan atau bahkan berutang hanya demi mengikuti tren.

Ia juga mendorong pemerintah memanfaatkan momentum Ramadan dan mudik melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi seperti bazar Ramadan dan kegiatan yang melibatkan pelaku UMKM. “Bagi pelaku usaha, yang perlu ditingkatkan adalah kualitas produk, kemasan, branding, serta pemanfaatan kanal media sosial. Sementara bagi masyarakat yang mudik, sebaiknya bijak memilih barang untuk keluarga sesuai kemampuan ekonomi dan sebisa mungkin menghindari utang,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....