Makanan Haram dan Syubhat, berdampak Serius terhadap Perilaku dan Keimanan
- 04 Mar 2026 18:43 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Makanan yang dikonsumsi seseorang tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh besar terhadap perilaku, sikap, hingga kualitas keimanan. Islam secara tegas mengatur agar umatnya hanya mengonsumsi makanan yang halal dan baik.
Namun, di tengah realitas sosial saat ini, masih banyak sumber makanan yang berasal dari jalan haram maupun syubhat, salah satunya dari hasil korupsi.Hal tersebut disampaikan oleh Ustad H. Ahmad Masduqi, Lc., MA, Dai Yayasan Dana Sosial Al-Falah Kota Surabaya, saat berbincang dengan RRI Surabaya dalam program Berkah Ramadhan, Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menegaskan bahwa makanan yang berasal dari harta haram memiliki dampak serius bagi kehidupan seseorang, baik secara lahir maupun batin.
“Islam sangat menekankan pentingnya kehalalan sumber rezeki. Makanan yang berasal dari hasil korupsi jelas haram, dan jika dikonsumsi, akan memberi pengaruh buruk terhadap akhlak, perilaku, serta keimanan seseorang,” ujar Ustad Ahmad Masduqi.
Ia menjelaskan bahwa makanan haram dapat mengeraskan hati, menjauhkan seseorang dari nilai-nilai kebaikan, serta membuatnya sulit menerima nasihat dan petunjuk. Bahkan, ibadah yang dilakukan oleh orang yang terbiasa mengonsumsi makanan haram berpotensi tidak diterima oleh Allah SWT.
Tidak hanya makanan yang jelas keharamannya, Ustad Ahmad Masduqi juga mengingatkan bahaya barang syubhat. Menurutnya, syubhat adalah perkara yang berada di wilayah abu-abu, namun dalam banyak kondisi justru lebih dekat kepada haram daripada halal.
| Baca juga: Apakah Penderita Maag Aman Berpuasa? |
“Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa barang siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Sebaliknya, terbiasa dengan syubhat akan menyeret seseorang pada perkara haram secara perlahan,”ucapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dampak konsumsi makanan haram dan syubhat tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga dapat memengaruhi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Anak-anak yang tumbuh dari asupan rezeki yang tidak halal berpotensi mengalami kerusakan moral dan spiritual.
Sebagai solusi, Ustad Ahmad Masduqi mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mencari nafkah dan memastikan sumber rezeki yang diperoleh benar-benar halal.Ia juga mengingatkan pentingnya muhasabah diri serta memperbaiki niat dan cara dalam memenuhi kebutuhan hidup.
“Keberkahan hidup bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari kehalalan dan keberkahan rezeki tersebut. Rezeki yang halal akan menenangkan hati, memperbaiki akhlak, dan menguatkan keimanan,” kata Ustad Ahmad Masduqi.
Melalui kesadaran akan pentingnya menjaga kehalalan makanan dan rezeki, diharapkan umat Islam mampu membangun pribadi yang berakhlak mulia, beriman kuat, serta membawa kebaikan bagi masyarakat secara luas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....