Bijak Belanja saat Ramadan

  • 04 Mar 2026 15:09 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Siaran Dialog Ekonomi yang mengudara Selasa, 4 Maret 2026, menghadirkan Gita Desipradani, S.Pd., M.M., MSA, Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dalam perbincangan tersebut, Gita mengulas tema “Bijak Belanja dalam Bulan Ramadan” dari perspektif akuntansi dan pengelolaan keuangan keluarga.

Menurut Gita, Ramadan kerap menjadi momentum meningkatnya pengeluaran rumah tangga. Kenaikan harga bahan pokok seperti beras dan minyak goreng, ditambah kebutuhan menjelang Lebaran, sering membuat keuangan tidak terkendali. “Makna bijak belanja dalam perspektif akuntansi itu sederhana, yakni menyusun skala prioritas dan mengamankan kebutuhan pokok lebih dulu,” ujarnya.

Ia menegaskan, masyarakat perlu menyiapkan anggaran sejak awal bulan. “Kalau sudah menerima gaji atau ada tambahan pendapatan, sebaiknya langsung disisihkan untuk tabungan persiapan Lebaran. Jangan menunggu sisa, karena biasanya tidak pernah ada sisa,” kata Gita. Ia juga mengingatkan bahwa meski ada Tunjangan Hari Raya (THR), kebutuhan selama Ramadan dan Idulfitri cenderung meningkat.

Fenomena “lapar mata” saat berbelanja menjelang waktu berbuka puasa juga menjadi sorotan. Gita menyarankan agar masyarakat menghindari belanja satu jam sebelum Magrib. “Biasanya kalau belanja menjelang berbuka itu jadi impulsif. Coba ditahan 10–15 menit, sering kali keinginan itu hilang sendiri,” ujarnya.

Dalam praktiknya, ia menyarankan metode pembatasan uang belanja harian. Misalnya dengan menentukan nominal tertentu setiap hari agar tidak “boncos” sebelum akhir bulan. “Kalau perlu gunakan sistem amplop, jadi sudah ditakar untuk kebutuhan harian, takjil, atau keperluan lain,” katanya.

Terkait maraknya promo dan diskon, Gita mengingatkan agar konsumen tetap kritis. Ia mencontohkan promo parcel atau produk makanan yang mendekati masa kedaluwarsa. “Hati-hati dengan barang promo, cek tanggal expired-nya. Jangan tergiur murah tapi akhirnya mubazir,” ucapnya.

Ia juga menyinggung kebiasaan belanja daring yang kerap membuat pengeluaran membengkak. “Sering kali harga dinaikkan dulu lalu diberi diskon. Kita harus benar-benar membandingkan harga dan membaca ulasan sebelum checkout,” katanya. Menurutnya, konsumen perlu bijak memilah antara kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.

Soal tradisi buka bersama, Gita menilai kegiatan tersebut tetap bisa dilakukan selama sesuai kemampuan. “Silakan saja buka bersama, tapi harus dianggarkan. Hitung dulu kemampuan kita. Jangan sampai setelah Lebaran justru ‘kering kerontang’ karena pengeluaran tak terkontrol,” ungkapnya.

Dalam pengelolaan THR, Gita menekankan pentingnya mendahulukan kewajiban seperti zakat. “Jangan lupa, kalau dapat THR, zakatnya didahulukan. Setelah itu baru dialokasikan untuk orang tua, keluarga, dan kebutuhan lainnya,” tuturnya. Ia menyarankan minimal 30 persen pendapatan dialokasikan untuk tabungan sebelum menghitung belanja.

Sebagai penutup, Gita mengingatkan agar masyarakat tidak tergoda menggunakan THR untuk pembelian besar yang tidak mendesak. “Kalau mau beli motor atau gawai baru, pastikan sudah punya tabungan cadangan. Jangan sampai senang sesaat, tapi setelah Lebaran kesulitan keuangan,” ucapnya. Dialog tersebut menegaskan bahwa kunci bijak belanja Ramadan terletak pada disiplin anggaran dan pengendalian diri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....