Perlukah Minuman Isotonik saat Berpuasa?
- 03 Mar 2026 12:53 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Saat puasa ramadan tubuh kita menahan makan dan minum sepanjang siang hari, sehingga kebutuhan cairan dan hidrasi menjadi hal yang perlu diperhatikan setelah berbuka atau saat sahur. Minuman isotonik seringkali muncul sebagai salah satu pilihan untuk mengembalikan energi dan elektrolit yang hilang, terutama bagi mereka yang tetap beraktivitas atau berolahraga saat berpuasa. Namun, apakah minuman isotonik benar-benar diperlukan atau paling tepat dikonsumsi saat berpuasa masih membutuhkan pertimbangan cermat dari sisi kesehatan dan kondisi tubuh.
Melansir ayosehat.kemkes.go.id, minuman isotonik adalah minuman yang mengandung cairan, karbohidrat, dan elektrolit (seperti natrium dan kalium) yang tingkatnya mirip dengan cairan tubuh manusia sehingga bisa diserap relatif cepat oleh tubuh jika dibandingkan air putih biasa. Isotonik biasa digunakan oleh atlet untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang melalui keringat setelah aktivitas fisik intens atau lama. Studi ilmiah menunjukkan minuman isotonik dapat membantu menjaga hidrasi tubuh dan memberikan sumber energi cepat selama aktivitas fisik berat.
Beberapa penelitian kesehatan juga menemukan bahwa konsumsi isotonik sebelum atau setelah aktivitas fisik dapat membantu menurunkan persepsi kelelahan dan moderasi akumulasi asam laktat, yang menunjukkan manfaatnya dalam konteks latihan fisik berat. Misalnya, studi pada atlet muda menunjukkan kelompok yang mengonsumsi minuman isotonik sebelum latihan mengalami persepsi lebih ringan terhadap upaya fisik dibandingkan yang hanya minum air.
Namun, jika seseorang menjalani puasa tanpa melakukan aktivitas fisik berat atau olahraga intens di siang hari, kebutuhan untuk minuman isotonik menjadi kurang mendesak. Menurut sejumlah sumber kesehatan, tubuh terutama membutuhkan air putih yang cukup dari waktu berbuka hingga sahur untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh selama puasa. Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk mencegah dehidrasi terlebih dahulu, karena sebagian besar orang berpuasa tidak kehilangan elektrolit sebanyak atlet yang berolahraga panjang dalam kondisi panas.
Selain itu, kandungan gula dan natrium dalam minuman isotonik perlu diperhatikan karena dapat berdampak pada kesehatan jika dikonsumsi berlebihan, terutama bagi mereka dengan kondisi seperti gula darah atau tekanan darah tinggi. Beberapa ahli kesehatan menyarankan konsumsi minuman isotonik hanya secara terbatas dan tidak setiap hari, serta mempertimbangkan jumlahnya agar tidak menggantikan air putih dalam jumlah yang lebih besar.
Dalam konteks puasa, memakai isotonik sebagai pelengkap hidrasi yang bijak mungkin bermanfaat saat seseorang melakukan aktivitas fisik berat sebelum berbuka atau setelah salat tarawih, ketika tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Namun untuk aktivitas biasa selama puasa yang tidak terlalu menguras tenaga, air putih tetap lebih direkomendasikan sebagai sumber hidrasi utama.
Minuman isotonik dapat memiliki manfaat khusus dalam keadaan tertentu seperti olahraga intens saat berpuasa, tetapi tidak selalu diperlukan untuk semua orang yang berpuasa. Pilihlahlah konsumsi isotonik secara bijak, terutama di waktu berbuka atau setelah aktivitas berat, dan imbangi tetap dengan air putih yang cukup serta asupan gizi seimbang agar tubuh tetap sehat dan terhidrasi saat menjalani puasa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....