Sejarah berdirinya Jam’iyyatul Qurro’ Wal Huffadh (JQWH)
- 25 Feb 2026 22:59 WIB
- Surabaya

RRI. CO. ID, Surabaya - Sejarah berdirinya Jam’iyyatul Qurro’ Wal Huffadh (JQWH) di Surabaya menjadi tonggak penting dalam penguatan tradisi keilmuan Al-Qur’an di Jawa Timur. Hal tersebut disampaikan K. H. Ali Muhammad dan Anang Firdaus .
Menurut K. H. Ali Muhammad , embrio JQWH sudah tampak sejak tahun 1950-an ketika lima hafidz rutin menggelar tadarus di Masjid Agung Sunan Ampel. “Saat itu sudah menjadi tradisi lima hafidz membaca Al-Qur’an secara bergantian. Dari situlah muncul gagasan untuk membentuk wadah yang lebih terorganisir,” ujarnya.
Lima hafidz tersebut adalah Ustadz H. Ali Muhammad, Ustadz Mujri Dahlan, Ustadz Abdullah Muhammad, K.H. Bashori Alwi, dan K.H. Abdullah Alwi Murtadlo. Gagasan pembentukan organisasi diperkuat oleh K.H. Abdul Hamid selaku Ketua Takmir Masjid Agung Sunan Ampel, yang mengusulkan agar setiap malam Jumat diadakan tadarus bersama para pencinta Al-Qur’an. Usulan itu disambut baik, lalu dibentuk tim kecil bernama Majlis al-Qurra di Musholla K.H. Dahlan, Kebondalem.
Dalam musyawarah tersebut turut diundang Ustadz H. Abdurrahim Ahmad dan Ustadz Nawawi Muhammad untuk merumuskan arah gerakan. “Disepakati bahwa organisasi ini akan fokus pada pendidikan dan pengembangan Al-Qur’an. Segala aktivitasnya insyaallah bernilai ibadah karena yang diurusi adalah Al-Qur’an,” tuturnya.
Kegiatan awal diisi dengan Lailatul Qiro’ah, yakni pembacaan Al-Qur’an yang dilanjutkan dengan pengajian tentang fadilah ayat-ayat suci. “Alhamdulillah, sambutannya luar biasa. Umat Islam berbondong-bondong hadir,” Anang Firdaus. Dorongan pembentukan organisasi juga datang dari Menteri Agama RI saat itu, K.H. Abdul Wahid Hasyim. Dalam pertemuan dengan para ulama, beliau berpesan agar para kiai ahli Al-Qur’an dihimpun dalam satu wadah.
“Beliau menyampaikan pentingnya mengumpulkan para ahli Al-Qur’an agar tradisi membaca dan mengajarkan Al-Qur’an tetap terjaga,” jelas nya.
Akhirnya, pada 31 Desember 1959, resmi berdiri Jam’iyyah Al-Qurra’ Wal Huffadh (JQWH) di Surabaya. Organisasi ini kemudian menggelar kursus Qira’ah dengan menghadirkan pakar Al-Qur’an dari Pondok Bahaudin Ngelom Sepanjang, seperti K.H. Abdurrauf dan K.H. Abdul Karim Gresik. Menjelang kongres nasional pertama, JQWH Jawa Timur menyusun AD/ART yang menegaskan organisasi ini bernaung di bawah Nahdlatul Ulama (NU) dan berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah.
“Ini menjadi pijakan penting agar arah perjuangan tetap jelas dan konsisten,” ujarnya.
Kongres pertama JQWH digelar di Surabaya pada 16–19 Desember 1964 dengan K.H. Zaini Miftah sebagai Ketua Besar. Sejumlah ulama terkemuka turut masuk dalam dewan JQWH. “Hingga hari ini, JQWH tetap eksis sebagai wadah para qurra’ dan huffadh dalam menjaga kemurnian bacaan serta pengembangan pendidikan Al-Qur’an,” kata K. H. Ali Muhammad dan Anang Firdaus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....