Tasawuf Syaikhana Khalil

  • 24 Feb 2026 13:23 WIB
  •  Surabaya

RRI. CO. ID, Surabaya - Kajian bertema “Tasawuf Syaikhana Khalil” menghadirkan Abdul Munim Cholil, Lc., M.Ag., yang mengulas sisi sufistik Syaikhana Muhammad Khalil (1820-1925), ulama kharismatik pesantren yang diakui kualitas keilmuannya oleh para ulama Madura dan Jawa.

Dalam pemaparannya, Abdul Munim menjelaskan bahwa Syaikhana Muhammad Khalil telah menempuh perjalanan intelektual yang panjang sejak di tanah air sebelum melanjutkan studi ke Mekkah. “Beliau telah melengkapi dirinya dengan perangkat ilmu-ilmu Islam, seperti nahwu dan gramatika bahasa Arab, bahkan sudah menghafal Al-Qur’an sejak di Indonesia,” ujarnya.

Di Mekkah, Syaikhana Khalil memperdalam qira’at sab’ah hingga mencapai puncak kualifikasi keilmuan secara lahir. Menurutnya, dalam tradisi pesantren, kualitas seorang ulama tidak hanya diukur dari kedalaman ilmunya, tetapi juga dari sanad keilmuan dan transmisi ilmu kepada para santri.

“Pengetahuan seseorang diukur dari jumlah kitab yang dipelajari dan kepada siapa ia berguru. Transmisi keilmuan inilah yang menjaga kesinambungan dan homogenitas tradisi pesantren dari masa ke masa,” jelas Abdul Munim.

Namun demikian, ia menyoroti bahwa aspek tasawuf Syaikhana Muhammad Khalil belum banyak dikaji secara serius. “Ajaran beliau, terutama sisi sufistiknya yang tersebar secara verbal hingga generasi ketiga, belum mendapatkan pengkajian yang memadai,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa keterbatasan metodologi ilmiah sering membuat kajian tentang beliau menjadi kurang mendalam. Meski begitu, Abdul Munim tetap mengapresiasi para penulis biografi yang telah mendokumentasikan jejak kehidupan Syaikhana Khalil.

“Saya tetap bersyukur atas semua upaya awal yang telah dilakukan, karena dari sanalah kita bisa berpijak pada data yang ada,” tuturnya.

Narasumber menekankan bahwa ajaran tasawuf Syaikhana Muhammad Khalil lebih banyak diajarkan secara amali, yakni melalui keteladanan perilaku. “Bagi praktisi tasawuf, mendidik seorang salik jauh lebih sulit dan menantang daripada sekadar berceramah atau menulis,” tegasnya. Oleh karena itu, menurutnya, perilaku dan laku hidup Syaikhana Khalil merupakan diskursus penting yang layak dikaji sejajar dengan ujaran dan karya tulisnya.

Kajian ini diharapkan dapat mendorong penelitian lebih mendalam tentang warisan tasawuf Syaikhana Muhammad Khalil, khususnya dalam memperkaya khazanah keilmuan pesantren dan spiritualitas Islam Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....