Cinta Beda Iman, Wawan Temukan Hidayah

  • 24 Feb 2026 12:46 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.Id Surabaya - Cinta beda iman yang dijalani Hermawan Priono atau Wawan bukan sekadar kisah romantis penuh toleransi. Di balik itu, ada pergulatan batin panjang, keputusan besar, hingga fase salat sembunyi-sembunyi yang bahkan tak diketahui istrinya sendiri.

Kisah itu bermula pada 2002, saat Wawan dan perempuan yang kini menjadi istrinya dipertemukan dalam program KKN di sebuah desa di Jawa Tengah. Berbeda kampus dan berbeda keyakinan, keduanya kembali bertemu di Surabaya dan menjalin hubungan serius.

Sebagai perantau tanpa keluarga di Kota Pahlawan, kedekatan mereka tumbuh cepat. Mereka sepakat menikah meski berbeda agama, dengan keyakinan waktu akan menjawab segalanya.

“Kami jalani dulu. Siapa tahu ada hidayah,” ujar Wawan dalam program Kurma kisah unik Ramadan RRI Surabaya, Selasa 24 Februari 2026.

Sejak kecil Wawan dibaptis dan aktif di gereja. Ia bahkan sempat menempuh pendidikan teologi. Setelah menikah, ia tetap beribadah setiap Sabtu dan Minggu. Namun di rumah, ia melihat istrinya salat, berpuasa, dan merayakan Idul Fitri. Saat hari raya tiba, ia hanya mengantar tanpa bisa ikut salat Id.

Kegelisahan itu memuncak ketika anak-anak mereka lahir. Ia mulai memikirkan peran sebagai pemimpin keluarga. Pergulatan batin berlangsung hampir sembilan tahun. Hingga akhirnya pada 2021, ia memantapkan hati mengucapkan syahadat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.

Tangisnya pecah saat resmi menjadi Muslim. Namun keputusan itu belum langsung ia sampaikan kepada istrinya.

Selama dua hingga tiga bulan, Wawan menyembunyikan status barunya. Ia belajar salat secara otodidak. Tak ada guru khusus, hanya belajar dari bacaan dan mengamati.

Jika waktu Subuh tiba, ia pamit kepada istrinya, “Sebentar, saya keluar dulu.” Padahal ia mencari tempat untuk salat. Saat Zuhur dan Asar, ia tunaikan di sela perjalanan atau tempat yang memungkinkan. Semua dilakukan diam-diam.

“Saya belum siap bicara. Saya ingin benar-benar mantap dulu,” katanya.

Hingga suatu pagi, ia tak lagi ingin menyembunyikan. Wawan membangunkan istrinya saat Subuh.

“Ayo salat Subuh,” ucapnya pelan.

Sang istri sempat mengira itu gurauan. Namun ketika ia melihat Wawan berwudu dan berdiri untuk salat, ia terdiam. Pagi itu, untuk pertama kalinya mereka salat Subuh bersama.

Beberapa waktu kemudian, Wawan mulai berani mengimami. Usai salat, sang istri menangis dan memeluknya. Sore harinya, ia dihadiahi baju koko, kopiah, dan sajadah.

“Subuh itu menjadi awal hidup saya yang baru,” tutur Wawan.

Dari cinta beda iman, sembilan tahun penantian, hingga salat yang dilakukan sembunyi-sembunyi, Wawan akhirnya menemukan keyakinan yang ia sebut sebagai jawaban atas kegelisahan panjangnya. Kini, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan pengingat perjalanan cinta yang bermuara pada hidayah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....