Bahaya Berbuka Terlalu Manis bagi Penderita Prediabetes

  • 23 Feb 2026 10:29 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Bulan Ramadan sering menjadi momen di mana tradisi berbuka puasa dengan yang manis sangat populer di kalangan masyarakat. Namun, kebiasaan ini bisa membawa risiko kesehatan serius bagi mereka yang memiliki kondisi seperti prediabetes, di mana kadar gula darah sudah lebih tinggi dari normal namun belum mencapai tahap diabetes penuh.

Melansir dari ayosehat.kemkes.go.id, konsumsi gula yang berlebihan merupakan salah satu faktor utama risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan gangguan metabolisme lainnya.

Prediabetes adalah kondisi di mana kadar gula darah seseorang lebih tinggi dari nilai normal tetapi belum sampai batas yang diklasifikasikan sebagai diabetes melitus, dan sering kali tidak menunjukkan gejala jelas. Kondisi ini sangat penting dikenali karena bisa menjadi tahap awal sebelum diabetes tipe 2 berkembang bila tidak ada intervensi.

Kemenkes RI melalui program deteksi dini mendorong masyarakat untuk melakukan skrining kadar gula darah secara rutin, terutama bagi mereka dengan faktor risiko seperti konsumsi gula tinggi atau riwayat keluarga dengan diabetes.

Saat seseorang berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang sangat manis, terutama dalam jumlah besar seperti sirup, kolak, atau minuman berpemanis dalam kemasan, gula darah akan naik secara cepat dan drastis.

Lonjakan kadar gula darah ini pun dapat memberikan tekanan tambahan pada sistem metabolisme tubuh, yang pada penderita prediabetes bisa memperburuk kondisi resistensi insulin. Kondisi ini bisa mempercepat transisi dari prediabetes ke fase diabetes yang lebih parah jika tidak dikontrol dengan baik.

Kementerian Kesehatan RI juga mencatat bahwa konsumsi gula harian masyarakat Indonesia masih sering melampaui batas aman yang direkomendasikan oleh pedoman kesehatan nasional. Asupan gula berlebih tidak hanya memicu lonjakan gula darah, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan berat badan, obesitas, dan kondisi resistensi insulin semuanya adalah faktor risiko penting terjadinya diabetes.

Prediabetes sering kali tidak menimbulkan gejala awal yang jelas, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa tubuh mereka sudah berada dalam kondisi risiko tinggi. Karena itu, kebiasaan berbuka dengan makanan manis setiap hari tanpa mengimbanginya dengan pola makan seimbang dan gaya hidup sehat justru memperberat kerja tubuh dalam mengatur kadar gula darah. Pemeriksaan gula darah, pola makan seimbang, serta pilihan takjil yang rendah gula menjadi bagian penting dari upaya pencegahan agar tidak berkembang menjadi diabetes penuh.

Selain itu, batas konsumsi gula yang dianjurkan per hari bagi masyarakat umum agar tidak melebihi batas aman, yaitu sekitar 50 gram atau setara empat sendok makan gula, termasuk dari semua sumber makanan dan minuman. Mengambil langkah ini sangat penting terutama bagi mereka yang sudah memiliki status prediabetes sehingga lonjakan gula darah pasca berbuka dapat diminimalkan.

Untuk penderita prediabetes yang ingin tetap sehat selama Ramadan, penting untuk menjaga asupan gula dari takjil dan minuman manis, memilih alternatif menu rendah gula, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Memahami risiko gula berlebih bukan saja soal manisnya cita rasa tetapi juga tentang meminimalkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang, termasuk berkembangnya diabetes dan komplikasinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....