Persagi: Gizi dan Budaya Jadi Kunci Ketahanan Pemain Sepak Bola di Piala Dunia 2026
- 14 Jul 2026 10:58 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Sepak bola modern adalah adu stamina yang membutuhkan pengelolaan energi yang tepat melalui asupan protein, lemak, dan karbohidrat yang optimal.
- Disiplin menjaga pola makan dan status gizi harus menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari atlet, bukan hanya dilakukan menjelang pertandingan.
- Budaya olahraga yang kuat, seperti di Brasil dan Jepang, ketika dikombinasikan dengan pengelolaan gizi yang tepat, dapat melahirkan pemain-pemain bertalenta yang bersaing di level internasional.
- Atlet profesional elite seperti Messi mampu mempertahankan performa tinggi hingga usia matang karena disiplin menjaga kondisi fisik dan nutrisi.
- Indonesia perlu melibatkan ahli gizi bersertifikat dalam pembinaan olahraga nasional untuk memastikan kebutuhan nutrisi atlet terukur dengan baik.
RRI.CO.ID, Surabaya - Perhelatan Piala Dunia 2026 saat ini telah memasuki babak semifinal. Empat kesebelasan yaitu, Prancis, Inggris, Spanyol, dan Argentina akan bertanding memperebutkan dua tempat di babak final. Demam sepak bola dunia tak hanya menghadirkan persaingan antartim, tetapi juga membuka ruang pembahasan mengenai faktor-faktor yang menentukan performa pemain di lapangan. Selain strategi dan kemampuan individu, aspek gizi dinilai menjadi salah satu fondasi penting yang menopang stamina selama pertandingan berlangsung.
Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Doddy Izwardy, mengatakan sepak bola modern merupakan olahraga yang menuntut daya tahan fisik tinggi. Menurutnya, pertandingan selama 90 menit merupakan adu stamina yang membutuhkan pengelolaan energi secara tepat.
"Kalau kita lihat sepak bola dunia sekarang ini, sebenarnya adalah adu stamina. Di situlah kekuatan seorang pemain yang memiliki status gizi baik bisa tampil luar biasa karena pemanfaatan energi dari protein, lemak, dan karbohidrat dapat diatur dengan baik," ujar Doddy, di Surabaya beberapa waktu lalu kepada rri.co.id.
Ia mencontohkan pertandingan tim-tim besar yang menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan postur tubuh atau kekuatan fisik. Jepang, misalnya, mampu bersaing dengan negara-negara yang memiliki rata-rata postur lebih tinggi karena didukung disiplin, kualitas gizi, dan keterampilan bermain yang terus dibangun sejak usia dini.
Namun, Doddy menilai keberhasilan sebuah tim juga dipengaruhi budaya olahraga yang telah mengakar. Menurutnya, Brasil menjadi contoh bagaimana tradisi sepak bola yang kuat mampu melahirkan pemain-pemain bertalenta yang kemudian diperkuat dengan pengelolaan gizi yang tepat.
"Budaya itu yang harus dibangun. Gizi memang penting, tetapi harus dipupuk bersama kebiasaan hidup sehat dan latihan sejak kecil sehingga saling melengkapi," katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya pola makan yang konsisten bagi atlet. Kebiasaan menjaga asupan gizi tidak cukup dilakukan menjelang pertandingan, melainkan harus menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari agar tubuh memiliki daya tahan optimal.
Sebagai contoh, Doddy menyebut pemain-pemain elite dunia mampu mempertahankan performanya hingga usia matang karena disiplin menjaga kondisi fisik. Menurutnya, setiap atlet profesional memiliki pengaturan pola makan yang disesuaikan dengan kebutuhan latihan dan pertandingan.
"Messi bisa tetap bermain di level tinggi karena mampu memelihara status gizinya. Indonesia juga perlu melibatkan ahli gizi yang memiliki sertifikasi agar kebutuhan nutrisi atlet benar-benar terukur sehingga pemain mampu menjaga stamina selama 90 menit pertandingan," ucapnya.
Doddy berharap perhatian terhadap ilmu gizi semakin menjadi bagian dari pembinaan olahraga nasional. Dengan dukungan pelatih, tenaga kesehatan, dan ahli gizi yang kompeten, atlet Indonesia diharapkan memiliki daya saing yang lebih baik di tingkat internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....