Keparprov Jatim 2026 Petakan Regenerasi Atlet Disabilitas Melalui Kelompok Usia

  • 20 Sep 2026 14:47 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Komite Paralimpiade Indonesia Provinsi Jawa Timur (NPCI Jatim) mulai mengubah pola pembinaan atlet disabilitas dengan memetakan peserta berdasarkan kelompok usia. Langkah tersebut diterapkan untuk pertama kalinya pada cabang para atletik dalam Kejuaraan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur (Keparprov Jatim) 2026.

Keparprov Jatim 2026 mempertandingkan para atletik dan bola voli duduk serta diikuti atlet dan ofisial dari 35 kabupaten/kota di Jawa Timur. Pertandingan berlangsung di lingkungan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Ketua Komite Paralimpiade Indonesia Provinsi Jawa Timur, Imam Kuncoro, mengatakan pembagian usia menjadi bagian penting dalam memastikan proses regenerasi berjalan sejak dini. "Pembinaan olahraga tidak cukup hanya memikirkan siapa yang mampu bertanding hari ini. Kita juga harus memikirkan siapa yang akan membawa Jawa Timur lima atau sepuluh tahun yang akan datang," kata Imam.

Menurut Imam, pembagian kelompok usia bukan sekadar persoalan teknis pertandingan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menciptakan jalur pembinaan yang lebih jelas, terutama bagi atlet muda yang membutuhkan pengalaman kompetisi secara berkelanjutan.

"Bakat tidak cukup ditemukan. Bakat harus diberi ruang untuk bertumbuh. Kompetisi menjadi bagian penting agar atlet muda memperoleh pengalaman, belajar menghadapi tekanan pertandingan, sekaligus mengetahui perkembangan hasil latihannya," ujar Imam.

Penerapan kelompok usia tidak diberlakukan secara seragam pada seluruh cabang olahraga. Pada bola voli duduk, misalnya, NPCI Jatim tetap memberikan kesempatan bertanding tanpa batasan usia. Dua atlet Jawa Timur turut memperkuat Indonesia dan meraih medali perak pada ASEAN Para Games di Thailand. Dua atlet Jawa Timur dari cabang yang sama juga baru kembali setelah mengikuti single event di Rusia.

Sementara itu, delapan atlet Jawa Timur saat ini menjalani Pemusatan Latihan Nasional sebagai persiapan menghadapi Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang. Penanggung Jawab Keparprov Jatim 2026, Roy Agustinus Soselisa, M.Pd., mengatakan Keparprov perlu dimanfaatkan sebagai sumber data untuk menentukan arah pembinaan setelah kompetisi berakhir.

"Kejuaraan akan kehilangan maknanya apabila setelah pertandingan selesai, pembinaan ikut berhenti. Hasil Keparprov harus menjadi bahan bagi daerah untuk membaca siapa atlet yang perlu dibina lebih lanjut, nomor pertandingan yang perlu dikembangkan, kapasitas pelatih yang perlu ditingkatkan, serta sarana yang masih harus diperjuangkan," kata Roy.

Menurut Roy, pola tersebut sejalan dengan kerangka pembinaan yang telah dirumuskan NPCI Jawa Timur melalui Rapat Kerja Daerah, yakni sarana dan prasarana sebagai fondasi, pembinaan sebagai proses, dan organisasi sebagai sistem. Dari hasil akhir pertandingan para atletik dan bola voli duduk, Kota Kediri menjadi Juara Umum I Keparprov Jatim 2026 dengan raihan 9 emas, 2 perak, dan 3 perunggu. Kabupaten Sidoarjo menempati Juara Umum II dengan 8 emas, 5 perak, dan 3 perunggu. Sementara Kabupaten Gresik berada di posisi Juara Umum III dengan 7 emas, 5 perak, dan 3 perunggu.

Tercatat enam daerah dari Jatim menerima piala dan piagam penghargaan atas capaian mereka dalam Keparprov Jatim 2026. Bagi NPCI Jawa Timur, capaian medali menjadi salah satu bagian dari evaluasi. Yang lebih penting, hasil pertandingan dapat digunakan untuk menentukan keberlanjutan pembinaan atlet di masing-masing daerah.

"Piala mencatat apa yang telah kita capai. Evaluasi menentukan ke mana kita akan melangkah lagi. Yang terpenting setelah Keparprov adalah memastikan atlet yang telah kita temukan dan bina tetap berada dalam proses pembinaan," kata Imam.

Keparprov Jatim 2026 selanjutnya menjadi bagian dari rangkaian pembinaan menuju Pekan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur (Peparprov Jatim) 2027. Dari ajang tersebut, NPCI Jatim mendorong terbentukn

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....